Toleransi, Bulan Suci & Semangat Lawan Radikalisme

Ilustrasi
Ilustrasi

JakartaToleransi bukanlah menjadi hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Toleransi juga bukanlah warisan dari luar negeri. Toleransi murni merupakan nilai-nilai warisan dari para pendahulu negeri.

Kenapa toleransi merupakan identik dengan Indonesia? Karena keberaragaman di Indonesia sudah ada sejak dulu. Karena keberagaman itulah menuntut semua orang untuk terus bersikap toleran dan saling menghargai antar sesama.

Meski toleransi merupakan nilai warisan dalam negeri, implementasinya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi bibit radikalisme masih terus ada, dan secara sengaja disebarluaskan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Begitu masih oknum masyarakat ini terus menyebarkan provokasi dan propaganda radikalisme melalui media sosial. Motif dan kemasannya pun terus beragama.

Jika kita cermati, makin mudah dan banyak dari masyarakat yang begitu aktif menebar kebencian. Karena persoalan kecil pun, konten kebencian langsung hadir dalam status atau disebarkan melalui pesan berantai, atau diunggah melalui media sosial.

Provokasi dan ujaran kebencian ini harus diminimalisir, terlebih di bulan suci Ramadan. Mari kita saling menghargai, saling menebar kebaikan di bulan suci. Kenapa hal ini penting? Karena Ramadan merupakan bulan berkah, bulan ampunan dan bulan introspeksi. Tidak hanya menahan lapar dan haus, Ramadan juga mengajarkan serta menuntut kita untuk mengendalikan hawa nafsu. Tak terkecuali nafsu untuk terus mencari kesalahan orang lain dan menebar ujaran kebencian.

Ramadan saatnya introspeksi. Jika kita semua sepakat menebar kebencian bukanlah hal yang baik, maka tinggalkan. Jika kita semua sepakat toleransi merupakan solusi untuk bisa hidup berdampingan, maka lakukanlah. Karena toleransi merupakan praktek saling menghargai dan menghormati, yang merupakan bagian dari ibadah.

Sudah saatnya kita menanggalkan ego pribadi dan kelompok. Kebencian, intoleransi dan radikalisme jelas tidak relevan jika diterapkan di Indonesia. Karena itu jangan mengadopsi paham-paham yang mengandung kebencian, intoleransi dan radikalisme.

Saatnya menebar kebaikan di bulan suci. Negeri ini butuh generasi penebar kebaikan, bukan penebar kebencian. Negeri ini butuh generasi yang bisa menyatukan, bukan generasi yang menceraiberaikan. Ramadan merupakan momentum bagi kita semua untuk bersatu.

Jika kita bisa shalat berjamaah tanpa mempersoalkan latarbelakang, semestinya kita juga bisa bergotong royong dalam hal kebaikan. Pada pendahulu kita sudah banyak memberikan contoh terkait hal ini. Karena itulah Indonesia berkembang menjadi negeri yang toleran, meski dipenuhi dengan banyak keberagaman.

Propaganda radikalisme harus dilawan dengan nilai-nilai kearifan lokal, yang diimplementasikan dalam setiap ucapan dan perbuatan. Mari isi Ramadan dengan beribadah dan memperbanyak perbuatan baik. Semoga bulan suci ini menjadi bulan introspeksi buat semua pihak. Saatnya menebar kebaikan untuk kepentingan yang lebih besar. Mari saling menginspirasi dalam hal positif, agar negeri ini bisa tumbuh seperti yang kita inginkan. Salam toleransi. ( M.Robi )