Tiga Demonstrasi Tewas Akibat Truk Junta Myanmar

Seorang demonstran terluka sedang dirawat petugas medis sukarelawan setelah mendapat tindakan keras pasukan keamanan Myanmar

Jakarta – Sebuah truk junta militer Myanmar meluncur ke demonstrasi damai dan dilaporkan menabrak tiga orang yang ada di sana hingga tewas. Demonstrasi ini dilakukan untuk memprotes penolakan pemerintahan junta militer di negara itu.

Dalam sebuah video di media sosial, truk militer kecil menyasar gerombolan pendemo dengan cepat dari arah belakang.”Mobil (truk militer) itu menuju ke sini. Tolong kami! (Truk) itu menabrak anak-anak kecil. Oh! Mati! Lari! Lari!,” berbagai pernyataan ini terdengar dalam video tersebut, dikutip dari Associated Press.

Seorang saksi juga menyampaikan kepada Associated Press kalau pedemo hanya berada di jalan selama dua menit, sebelum truk militer menabrak mereka. Akibat kejadian ini, sebanyak tiga orang tergeletak tak bergerak.

“Setidaknya lima tentara bersenjata keluar dari kendaraan dan mengejar para protestan,” kata saksi itu. “Mereka melepaskan tembakan dan juga menangkap remaja yang tertabrak oleh mobil itu. Setidaknya sepuluh orang ditangkap,” tambahnya.

Kendati demikian, kematian akibat penabrakan ini masih belum dikonfirmasi.Kejadian ini terjadi di Kyimyindaing, Yangon pada Minggu (5/12). Pawai ini merupakan salah satu bagian dari tiga pawai lain yang diselenggarakan di wilayah itu.

Sekitar 30 orang mengikuti pawat ini, menurut seorang anggota Pemogokan Rakyat Yangon, kelompok perlawanan lokal yang mengatur acara pawai. Kegiatan ini dilakukan untuk membuat warga Myanmar ikut terlibat berjuang melawan rezim junta militer.

Sementara itu, salah satu anggota tim penyelamatan mengatakan pihaknya membawa dua pria dan satu wanita ke rumah sakit militer untuk mendapatkan perawatan. Mereka semua disebut berada dalam rentang umur 20-an dan memiliki luka yang serius.

Stasiun televisi negara itu juga melaporkan ada 11 protestan yang ditangkap, tiga dari mereka luka-luka. Tak hanya itu, saksi lain mengaku sempat diancam ketika ia melihat pihak junta menangkap orang-orang.

“Para prajurit menyuruh kami masuk ke dalam atau mereka akan menembak kami,” kata saksi itu sembari menceritakan kalau junta menangkap beberapa orang yang sedang mengambil barang.

Insiden ini menuai kecaman dari Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), yang mana merupakan kelompok oposisi bawah tanah junta Myanmar.

“Sifat serangan yang acak – membunuh dan melukai orang tanpa pandang bulu, bukanlah kecelakaan. Niat junta itu jelas: menciptakan ketakutan dan kepanikan sebanyak mungkin. Menimbulkan rasa sakit, trauma, dan penderitaan sebanyak mungkin, tanpa peduli siapa korbannya. Menegaskan pesan bahwa siapa pun dapat dibunuh, ditangkap, dipukuli, atau dilukai setiap saat, hanya karena berada di tempat yang salah,” kata pernyataan NUG yang ditandatangani oleh juru bicara kelompok dan menteri kerja sama internasional, Dr. Sasa.

Kedutaan Besar Amerika Serikat juga turut mengecam kejadian ini. Mereka menyampaikan bahwa pihaknya, “ngeri dengan laporan yang mengatakan kalau pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah pengunjuk rasa damai di Yangon, dan membunuh mereka.”

Penabrakan ini terjadi kala Myanmar tengah menunggu vonis pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi. Suu Kyi mendapatkan hampir selusin dakwaan, mulai dari tindakan penghasutan hingga protokol Covid-19. Suu Kyi membantah semua dakwaan itu. ( Fikri )