Terobosan Baru Dalam Nilai-Nilai Pancasila Di Lapas I Sukamiskin

Lapas Kelas 1 Sukamiskin

Bandung – Lapas I Sukamiskin Bandung kini membuat terobosan baru dalam menanamkan Garuda di dada dengan menghadirkan stackholder dan Klinik Pancasila di dalam Lapas.

Kalapas I Sukamiskin , Elly Yuzar mengatakan akhir akhir ini berbagai pihak melihat nilai nilai Pancasila sudah mulai memudar dan terabaikan ditengah kehidupan masyarakat. Nilai Nilai Pancasila seharusnya menjadi pandangan hidup, dan dasar negara dalam berbangsa dan bernegara.

Saat peringatan hari  Pancasila 1 Juni lalu,  Presiden RI Joko Widodo mengajak untuk membumikan nilai nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut Presiden Jokowi juga mengajak seluruh aparat pemerintahan, tokoh agama, tokoh masyarakat, para pendidik, kaum profesional, generasi muda Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu padu dan bergerak aktif memperkokoh nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan Indonesia maju yang kita cita-citakan, ujar Elly saat sosialisasi Pembinaan di aula Lapas Sukamiskin.

Menyikapi hal tersebut , sesuai arahan Direktur Jenderal   Pemasyarakatan, Reynhard Silitonga, akhirnya  Kepala Lapas  mengambil langkah – langkah  melaksanakan Sosialisasi Pembinaan yang  diadakan di Aula Lapas dengan menggandeng Yayasan Klinik Pancasila, BNPT dan Kesbangpol Prov.Jabar untuk menumbuhkembangkan Nilai Nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di Lingkungan Lapas I Sukamiskin, terang Elly.

Sosialisasi pembinaan itu diikuti petugas Lapas dan seluruh warga binaan Lapas yang berasal dari seluruh daerah di Indonesia dari Sabang hingga Merauke, tutur Elly.

“Saya merasa bangga Nilai Nilai Pancasila tumbuh dan berkembang dengan baik di Lapas Sukamiskin”, ucapnya. Kalapas berharap dalam  acara Penguatan Wawasan Kebangsaan yang diadakan di Lapas Sukamiskin itu, warga binaan  akan tetap menjunjung tinggi Pancasila dan Nilai Nilainya sebagai bagian dari warga negara Indonesia untuk mewujudkan Bhineka Tunggal Ika.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan  Kesbangpol Provinsi Jabar menyampaikan harapan kepada pihak BNPT dan Yayasan Klinik Pancasila bahwa selain di Lapas I Sukamiskin, penguatan wawasan kebangsaan juga harus diterapkan pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jawa Barat maupun seluruh Wilayah Indonesia.

Kombes Pol Astuti yang hadir mewakili Kepala BNPT sengaja memilih Lapas  Sukamiskin dari alternatif dua tempat yang akan menjadi lokasi kegiatan dengan alasan di Lapas  Sukamiskin memiliki potensi Warga Binaan yang berintelektual tinggi.

Astuti juga  memperkenalkan struktur BNPT beserta tugas pokok fungi masing masing bidangnya, ciri ciri tumbuhnya radikalisme dengan berbagai faktor yang melatarbelakangi, dan Strategi Nasional Penanganan Bahaya Terorisme, pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Klinik Pancasila Prof. Dodi Susanto yang juga menjadi Narasumber mengatakan dalam putusan Mahkamah Konstitusi Surat Keputusan nomor 97 tahun 2016 mengamanatkan tidak adanya diskriminasi dalam kegiatan publik sehingga toleransi adalah wajib hukumnya,

Pancasila menjadi instrument sarana edukasi, harapan Lapas Sukamiskin menjadi Kampus Klinik Pancasila dan Laboratorium Nasional serta Warga Binaan semuanya bersedia menjadi Dokter Pancasila. Di akhir penyampaian Prof. Dodi mengajak kerelaan dan keikhlasan semua insan bangsa untuk mewariskan  jati diri bangsa sebagai  bekal melewati era globalisasi menuju bangsa pemenang.

Hal menarik dan perlu diapresiasi berbagai pihak  melalui adanya ide Pembentukan Klinik Pancasila setelah dilaksanakannya diskusi. Dalam acara inipun sekaligus  dilakukan simulasi peserta yang berperan sebagai dokter Pancasila dan selaku klien.

Kegiatan ini diikuti oleh Warga Binaan dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua) terbukti dari hadirnya  Mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan Papua Barnabas suebu serta perwakilan warga binaan yang berasal dari pulau pulau besar lainya seperti Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan daerah Indonesia lainya.

Dalam waktu dekat Kalapas Sukamiskin mencanangkan akan dibentuk Kampus Klinik Pancasila dengan tujuan menumbuh kembangkan nilai nilai Pancasila dalam Lapas Sukamiskin dan bisa diikuti oleh lapas-lapas lain diseluruh Indonesia, ujarnya.

Berdasarkan aklamasi di akhir dari kegiatan serta dalam rangka mempersiapkan kampus klinik Pancasila, telah dibentuk formatur  dengan melibatkan Pakar pakar yang menghuni Lapas  1 Sukamiskin diantaranya Jero Wacik, irwandi yusuf, Setya Novanto, Surya Dharma Ali, Dada Rosada, Jefferson dan Barnabas suebu.

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan  Kesbangpol Provinsi Jabar menyampaikan harapan kepada pihak BNPT dan Yayasan Klinik Pancasila bahwa selain di Lapas I Sukamiskin, penguatan wawasan kebangsaan juga harus diterapkan pada Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jawa Barat maupun seluruh Wilayah Indonesia.

Kombes Pol Astuti yang hadir mewakili Kepala BNPT sengaja memilih Lapas  Sukamiskin dari alternatif dua tempat yang akan menjadi lokasi kegiatan dengan alasan di Lapas  Sukamiskin memiliki potensi Warga Binaan yang berintelektual tinggi.

Astuti juga  memperkenalkan struktur BNPT beserta tugas pokok fungi masing masing bidangnya, ciri ciri tumbuhnya radikalisme dengan berbagai faktor yang melatarbelakangi, dan Strategi Nasional Penanganan Bahaya Terorisme, pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Klinik Pancasila Prof. Dodi Susanto yang juga menjadi Narasumber mengatakan dalam putusan Mahkamah Konstitusi Surat Keputusan nomor 97 tahun 2016 mengamanatkan tidak adanya diskriminasi dalam kegiatan publik sehingga toleransi adalah wajib hukumnya,

Pancasila menjadi instrument sarana edukasi, harapan Lapas Sukamiskin menjadi Kampus Klinik Pancasila dan Laboratorium Nasional serta Warga Binaan semuanya bersedia menjadi Dokter Pancasila. Di akhir penyampaian Prof. Dodi mengajak kerelaan dan keikhlasan semua insan bangsa untuk mewariskan  jati diri bangsa sebagai  bekal melewati era globalisasi menuju bangsa pemenang. ( fikri )