Sebagian Besar Korban Perang Koalisi Arab adalah Anak-Anak

ilustrasi anak sebagai korban perang
Ilustrasi Anak-Anak Korban Perang Koalisi Arab dengan Milisi Houthi

Timur Tengah – Arab Saudi memimpin koalisi negara-negara Timur Tengah dalam konflik militer dengan kelompok milisi Houthi di Yaman sejak 2015. Konflik di Timur Tengah ini telah menyebabkan banyaknya jatuh korban perang dari warga sipil selama bentrok militer dengan kelompok pemberontak itu.

Terbaru, koalisi Timur Tengah pimpinan Arab Saudi itu melepaskan serangan udara ke kawasan Saada, bagian utara wilayah kekuasaan Houthi. Serangan udara itu diklaim paling mematikan di Yaman dalam lebih dari dua tahun terakhir, tulis Yahoo News mengutip video Reuters, 24 Januari 2022.

Setidaknya 60 orang tewas dilaporkan dalam serangan tersebut. Itu hanya salah satu serangan dalam konflik tujuh tahun antara koalisi dan Houthi. Pemberontakan Houthi telah berlangsung sejak 2014, dengan merebut sebagian besar bagian utara termasuk ibu kota Sanaa, sedang pemerintah kabur. Pada Maret 2015, koalisi negara-negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi, termasuk UEA melakukan intervensi dengan tujuan memulihkan pemerintahan.

Laporan lain menyebut kematian akibat konflik koalisi Arab Saudi dengan milisi Houthi di Yaman akan mencapai 377.000 jiwa pada akhir 2021. Laporan tersebut disampaikan badan program pembangunan PBB, UNDP yang dilansir oleh Aljazeera pada 23 November 2021 lalu. Jumlah korban perang Yaman itu termasuk mereka yang tewas sebagai akibat dari penyebab tidak langsung, yang diperkirakan sekitar 60 persen.

Kematian akibat dari penyebab tidak langsung itu, seperti kelaparan, penyakit yang tidak dapat dicegah, terutama yang dialami para pengungsi. Sedangkan sisanya akibat penyebab langsung, seperti pertempuran garis depan dan serangan udara, seperti yang menghantam, Saada baru-baru ini.

“Dalam kasus Yaman, kami percaya jumlah orang yang benar-benar tewas akibat konflik melebihi jumlah yang tewas di medan perang,” kata Administrator UNDP Achim Steiner. UNDP juga memperkirakan sekitar 70 persen dari korban perang Yaman tersebut anak-anak di bawah usia lima tahun. Jumlahnya diklaim mencapai 10.000 jiwa. Selain itu, laporan UNDP itu tersebut memproyeksikan hasil yang suram dalam waktu dekat jika konflik terus berlanjut.

Diproyeksikan jumlah korban tewas akibat perang Yaman tersebut dapat mencapai 1,3 juta jiwa pada 2030 mendatang. Kemudian, jumlah korban yang mengalami kekurangan gizi diperkirakan akan melonjak hingga menjadi 9,2 juta pada 2030. Sedangkan jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem akan mencapai 22 juta, atau 65 persen dari populasi, naik dari 15,6 juta orang saat ini.

Konflik militer selama bertahun-tahun di Yaman memang telah membuat negara tersebut berada di ambang kelaparan, selain ratusan ribu orang tewas. Bahkan, PBB menggambarkan situasi di negara Timur Tengah itu sebagai bencana kemanusiaan terburuk di dunia saat ini. Laporan UNDP itu memperkirakan kemiskinan ekstrem bisa hilang di Yaman dalam satu generasi, jika konflik militer segera diakhiri. UNDP menggunakan pemodelan statistik untuk menganalisis masa depan, dengan skenario jika perdamaian tercapai pada Januari 2022.

Dengan skenario itu, Yaman baru akan bisa memberantas kemiskinan ekstrem pada 2047, atau sekitar 25 tahun ke depan.

“Studi ini menyajikan gambaran yang jelas tentang seperti apa masa depan dengan perdamaian abadi termasuk peluang baru yang berkelanjutan bagi orang-orang,” kata Steiner.

“Rakyat Yaman sangat ingin bergerak maju menuju pemulihan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif,” ucap Direktur Biro Regional UNDP untuk Negara-negara Arab, Khalida Bouzar pula. Namun, UNDP mencatat perang masih terus bergerak. Seperti serangan udara paling mematikan yang baru saja dilancarkan koalisi Arab Saudi, bulan ini. (Binjoe)