seorang tentara Ukraina sedang bertugas jaga pos di garis depan perbatasan dengan separatis dukungan Rusia, tak jauh dari Gorlivka, region Donetsk, 27 April 2021.

MOSKWA – Rusia pada Senin (22/11/2021), dengan keras menolak klaim Amerika Serikat tentang penumpukan pasukan Rusia di dekat Ukraina. Kremlin menilai klaim AS bisa jadi merupakan tipuan, yang dimaksudkan untuk menutupi apa yang digambarkan Rusia sebagai niat agresif kepemimpinan Ukraina.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak tuduhan media AS, tentang rencana pihaknya untuk menyerang Ukraina, dan melihat kabar itu sebagai upaya untuk mendiskreditkan Rusia. Dia bersikeras bahwa pergerakan pasukan di wilayah Rusia sendiri seharusnya tidak menjadi perhatian siapa pun. Ukraina mengeluh awal bulan ini bahwa Rusia menahan puluhan ribu tentara tidak jauh dari perbatasan kedua negara setelah melakukan latihan perang, dalam upaya untuk lebih menekan tetangga bekas Sovietnya. Rusia mencaplok Semenanjung Krimea Ukraina pada 2014 dan mendukung pemberontakan separatis yang pecah tahun itu di Ukraina timur.

Berbicara kepada menteri luar negeri Ukraina bulan ini, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mencatat “strategi” Rusia adalah membangun kekuatan di dekat perbatasan dan kemudian menyerang, tapi “mengklaim secara salah bahwa itu diprovokasi.” Dalam sebuah wawancara dengan Military Times, Kepala Intelijen Militer Ukraina Kyrylo Budanov mengatakan bahwa Rusia memusatkan 92.000 tentara di dekat Ukraina, dan dapat melancarkan serangan dari beberapa arah, termasuk dari Belarus, pada akhir Januari atau awal Februari.

Di tengah ketegangan, Kementerian Pertahanan Ukraina pada Senin (22/11/2021) mengatakan bahwa pasukan itu melakukan latihan di wilayah Zhytomyr utara yang berbatasan dengan Belarus. Rusia telah mempertahankan hubungan politik dan militer yang erat dengan Belarus, dan kedua negara mengadakan latihan perang bersama besar-besaran pada September. (Rendi)