Radikalisme Bukan Muncul dari Ruang Hampa

Radikalisme bukan tumbuh dari ruang hampa
Radikalisme bukan tumbuh dari ruang hampa

JakartaRadikalisme tidak tumbuh dari ruang hampa. Itu kurang lebih satu kalimat yang dibuat oleh salah seorang pejabat di salah satu media cetak. Arti kalimat itu relatif dalam dan luas karena mengkaitkan satu perjalanan satu faham yang tidak muncul begitu saja dan menimbulkan danpak yang luas di dunia.

Kita bisa melihat dengan berbagai media bagaimana menara kembar hancur setelah dua pesawat komersial menabraknya dengan sengaja. Peristiwa menabrakkan diri itu tentu saja tidak sederhana. Dibutuhkan nyali untuk membajak pesawat dan menguasainya. Kemudian bagaimana mereka yakin harus menabrakkan diri ke WTC yang merupakan salah satu simbol perdagangan dunia dan dikuasai oleh barat.

Keyakinan untuk berbuat hal itu tentu tidak mudah. Para pembajak selain punya nyali besar untuk merebut pesawat kemudian menabrakkann ya ke menara kembar tentu saja bukan hal mudah; baik bagi dirinya sendiri maupun keluarga maupun lingkungannya. Hanya dengan keyakinan yang kuat dan tertanam lama, tindakan radikal bahkan terorisme itu dilakukan oleh mereka.

Begitu juga dengan berbagai kegiatan radikal yang dilakukan oleh para pelaku pengeboman di Indonesia. Mulai dari bom bali, serangkaian bom di Jakarta, bom di berbagai daerah seperti Medan, Makassar, Mojokerto, Solo dll. Dan terakhir yang mengejutkan kita adalah bom besar di Surabaya, Makassar dan jakarta dari kelompok yang tidak saling mengenal.

Mereka melakukan itu dengan keyakinan yang hampir sama yaitu berjuang di jalan Allah dan cara mereka -mereka yakin- direstui oleh Allah. Ini tercermin dari surat wasiat yang mereka sampaikan untuk keluarga. 

Keluarga di Surabaya yang melakukan bom bunuh diri di tiga gereja sekaligus dalam waktu bersamaan, punya keyakinan kuat bahwa mereka berbuat dengan benar karena sang kepala rumah tangga yaitu Bapak mengajak istri dan seluruh anaknya untuk melakukan pengeboman itu.

Tentu ini bukan hal yang mudah. Perlu keyakinan yang sangat kuat untuk menyakinkan seluruh seluruh keluarga untuk melakukan itu. Harus ada sesuatu yang kuat dan ekosistem yang mendukung keyakinan kuat itu. Dalam penyelidikan selanjutnya, ditemukan seorang guru agama yang banyak berinteraksi dengan keluarga ini yang kemudian menumbuhkan keyakinan itu.

Akhirnya kita memang harus sepakat, bahwa memang radikalisme tidak tumbuh di ruang hampa. Tidak mungkin seleuruh keluarga tetiba sepakat untuk melakukan bom bunuh diri untuk tiga gereja. Radikalisme bisa tumbuh di mana saja: di keluarga, di sekolah, di musola, di pengajian atau bahkan mungkin di masjid. Inilah yang harus kita waspadai bersama. ( M.Robi )