Promosikan Anarkisme, Tiongkok Sensor Film

Adegan akhir film Fight Club yang sempat di sensor.JPG
Adegan akhir film Fight Club yang sempat di sensor.JPG

Tiongkok – Ending film Fight Club cukup mengesankan dan dikenang banyak orang. Tapi di Tiongkok, ending cerita mengkritik kapitalisme dan konsumerisme itu berubah drastis, memicu protes dari para penggemar sinema.

Seharusnya, film yang rilis pada 1999 itu berakhir dengan adegan sang narator sekaligus tokoh utama (Edward Norton) membunuh kepribadiannya yang lain bernama Tyler Durden, lalu menyaksikan gedung-gedung pencakar langit diledakkan bersama kekasihnya.

Secara simbolis, ending tersebut menggambarkan sisa kemenangan ideologi Tyler yang anarkis, bahwa pola masyarakat konsumeris layak “dihancurkan”.

Menariknya, layanan streaming film milik Tencent justru mengubah ending tersebut. Berdasar kesaksian banyak orang di medsos Tiongkok awal Januari 2022, ending Fight Club di Tencent Video justru layar gelap dengan caption yang menggurui.

Disebutkan kalau Tyler berhasil ditangkap polisi sebelum sukses meledakkan gedung-gedung pencakar langit, “dan dia dikirim ke rumah sakit jiwa untuk mendapat perawatan lebih lanjut.”

Kaum sinefil Tiongkok marah besar. Sebagian mengaku sudah menonton Fight Club dari versi bajakan yang beredar di internet, sehingga mereka menyadari Tencent menyensor adegan di akhir film tersebut.

Kritik bertubi-tubi itu ternyata punya pengaruh. Pada 7 Februari lalu, beberapa netizen Tiongkok mendapati Tencent akhirnya memasukkan kembali ending asli Fight Club.

Tencent enggan merespons upaya konfirmasi dari VICE. Sehingga tidak jelas apakah sensor versi awal itu inisiatif mereka sendiri, atau karena diminta pemerintah komunis Tiongkok. Praktik penyensoran adegan dari film-film impor sering terjadi di Tiongkok.

Terutama menyasar film drama dan laga, supaya aparat keamanan atau pemerintah tidak nampak kalah dari penjahat.

Fight Club sendiri, dengan muatan anarkisme dalam ceritanya, jelas bukan tema yang disukai oleh rezim otoriter di Beijing. Tyler mengajak tokoh-tokoh di film tersebut, sekaligus penonton, untuk menjadikan sikap rebel sebagai jalan hidup.

Keberhasilan protes para sinefil mengubah sensor Fight Club menandai kali kedua ada perubahan sikap platform di Tiongkok berkat tekanan publik. Pada 2018, medsos Weibo, seperti Twitter tapi hanya untuk pasar Cina, membatalkan keputusan melarang konten bermuatan homoseksualitas.

Netizen Tiongkok menyerang Weibo atas kebijakan tersebut, dan manajemen akhirnya menyerah pada tekanan publik.

Menariknya, Chuck Palahniuk, penulis novel Fight Club yang menjadi inspirasi filmnya, saat diwawancarai TMZ menganggap sensor Tiongkok malah membuat ceritanya jadi lebih mirip dengan versi buku. Adegan menatap gedung-gedung runtuh memang tidak ada di novelnya.

Selain Fight Club, film Amerika lain yakni Lord of War juga ikut disensor oleh Tencent Video. Bedanya, karena tidak ada penolakan netizen, maka sensornya masih bertahan sampai artikel ini tayang.

Di ending versi sensor, sang penjual senjata diperankan Nicolas Cage divonis penjara seumur hidup. Padahal, dalam versi aslinya dia bebas melanjutkan hidup. ( Abdul Mapakhir )