Inggris – Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dilaporkan menyebut Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, seperti badut.
Majalah politik Le Canard Enchaine, melaporkan Macron mengeluh soal sikap Johnson yang dinilainya memiliki “sikap vulgar”.

Ejekan badut keluar dari mulut Macron setelah mengeluh tentang respons Johnson usai keduanya berbicara via telepon soal insiden kapal pengungsi yang tenggelam di Selat English pada 24 November lalu.

Dalam percakapan itu, Macron mengaku komunikasinya dengan Johnson berjalan baik dan bijaksana. Namun, ia marah setelah Johnson mengunggah kicauan di Twitter berisikan surat yang menguraikan lima poin rencana mengatasi masalah penyebrangan pengungsi di Selat English Channel.

“Saya berbicara dua hari lalu dengan PM Johnson secara serius,” kata Macron dalam jumpa pers pada Jumat (3/12).

“Bagi saya, saya terus melakukan itu, seperti yang saya lakukan dengan semua negara dan semua pemimpin. Saya terkejut dengan metode ketika mereka tidak serius. Kami tidak berkomunikasi dengan pemimpin lainnya tentang masalah ini melalui kicauan dan surat yang dipublikasikan,” kata Macron seperti dikutip The Guardian.

Sementara itu, menurut Le Canard Enchaine, Macron terus menggerutu soal sikap Johnson.

“BoJo (Boris Johnson) nyerocos kepada saya, semuanya berjalan baik, kami berdiskusi seperti orang besar, dan kemudian dia memberi kami waktu yang sulit sebelum atau sesudahnya dengan cara yang tidak elegan. Itu sirkus yang selalu sama,” bunyi laporan majalah itu mengutip pernyataan Macron.

Majalah itu menuturkan Macron juga mengatakan kepada para penasihatnya bahwa Johnson telah melayangkan permintaan maaf secara pribadi karena membuat Prancis sebagai kambing hitam soal isu pengungsi ini.

Macron dilaporkan merespons permintaan maaf itu dengan mengatakan, “sedih melihat negara besar yang kami yakin dapat melakukan banyak hal tetapi dipimpin oleh seorang badut.”

Macron juga dikabarkan menyalahkan sikap Johnson terhadap Prancis soal kesepakatan Brexit yang tak maksimal.

Macron disebut mengatakan “Brexit adalah titik awal sirkus Johnson.”

“Dengan sangat cepat dia (Johnson) menyadari bahwa situasinya adalah bencana besar bagi Inggris. Tidak ada bensin di pom, ada kelangkaan tumpukan produk,” kata Macron.

“Dia (Johnson) memposisikan dirinya sebagai korban dan menjadikan Prancis kambing hitam. Dia mencoba untuk mengubah situasi sederhana menjadi masalah yang kompleks,” lanjutnya.

Macron lebih lanjut disebut mengatakan bahwa “secara pribadi dia (Johnson) menyesal berperilaku seperti ini, tetapi dia mengatakan dia harus mempertimbangkan opini publik di atas segalanya.” (Rendi)