Pentingnya Memulai Pendidikan Anti-Terorisme

Ilustrasi Terorisme
Ilustrasi Terorisme

Jakarta – Sering saya ditanya, baik oleh murid di sekolah atau jemaah pengajian di kampung, dari mana pendidikan anti-terorisme harus dimulai? Maka, terus terang jawaban saya mungkin sekali sempit. Semua itu tidak lain karena backround keilmuan yang sangat terbatas.

Pertama-tama saya harus menyadari bahwa kata “teror” atau “terorisme” tidak bisa dimaknai hanya merujuk pada satu pemeluk agama tertentu, misalnya terorisme hanya dilakukan oleh pemeluk agama Islam. Kedua, terorisme tidak bisa dimaknai hanya merujuk pada satu negara atau bagian negera tertentu, misalnya terorisme pasti dari Timur Tengah. Ketiga, terorisme tidak selalu terkait peristiwa ledakan bom atau peristiwa yang memakan korban jiwa (al-Qurtuby & Aldamer, 2021).

Artinya, dalam belantara makna kata yang sangat sensitif itu, yakni terorisme, perlu kehati-hatian ekstra ketika menempatkannya dalam sebuah konteks pembahasan. Konteks pembahasan dalam tulisan ini pun akan dan harus dijelaskan terlebih dahulu duduk soal dan posisi sudut pandang saya dalam menulis.

Terorisme sebagai Sebab dan Akibat

Menurut saya, dalam membahas tema terorisme, penting ditekankan sejelas-jelasnya sudut pandang pengkaji dalam menempatkan tema terorisme tersebut, apakah sebagai akibat atau sebagai sebab. Terorisme sebagai sebab dapat terbaca dalam berbagai buku dan kebijakan pemerintah yang lahir terkait peristiwa serangan 9/11 di USA atau Bom Bali di Indonesia. Respon yang diberikan pada terorisme sebagai sebab cenderung keras, baik dalam kebijakan atau buku-buku yang hadir. Hal itu dapat dimengerti karena terorisme sebagai sebab terbukti mengakibatkan berbagai kerusakan dan kerugian yang besra. Lihat misalnya sejarah Densus 88 yang lahir pasca Bom Bali atau buku When Religion Became Evil (Kala Agama Jadi Bencana) karya Charles Kimball yang lahir pasca 9/11. Dalam buku itu Kimball melihat berbagai sisi “buruk” agama dan melayangkan kritiknya yang keras.

Adapun car pandang terorisme sebagai akibat, menunjukkan adanya sebab-sebab yang melandasi dan mengakibatkan sebuah tindakan teror tertentu. Sebab yang melandasi tindakan teror itu ada yang melihatnya dalam sisi ekonomi dan marjinalitas (Hiariej, 2017), kondisi sosial-politik (Nasir, 2013; Hasan, 2006), serta paham keagamaan (Maarif, 2018). Melihat terorisme sebagai akibat, selalu mengasumsikan bahwa tindakan teror tidak akan terjadi tanpa sebab-sebab tertentu sebelumnya. Dalam pandangan ini, penanganan terorisme dilakukan lebih halus dalam bentuk difusi gagasan untuk membentuk wacana tertentu. Oleh karena, yang disasar bukan tindakan terorisme yang telah terjadi, namun menyasar hal-hal yang diasumsikan kuat mengarah pada tindakan terorisme.

Pertanyaanya, di manakah tulisan saya ini berada? Jawabannya adalah pada jenis yang kedua, yakni memandang terorisme sebagai akibat. Jika ditanya lagi, sebagai akibat dari apa? Maka backround keilmuan saya akan bicara secara sangat spesifik, yakni akibat dari penafsiran ajaran Islam. Apakah mungkin dan ada satu bukti bahwa penafsiran tertentu terhadap ajaran Islam mendukung tindak teror? Jawaban paling mudah dirujuk adalah buku Aku Melawan Teroris karya Imam Samudra. Dalam buku itu, setidaknya terdapat berbagai ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi yang dimaknai dan dilegitimasi sebagai dasar-dasar berbagai strategi dan tindakan Bom Bali.

Tetapi, dalam buku Aku Melawan Teroris, tidak hanya tersaji penafsiran tertentu atas ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi. Terbaca juga bahwa alasan kuat tindakan Bom Bali, disebutkan Imam Samudra “Adalah satu di antara perlawanan yang ditujukan terhadap penjajah Amerika dan sekutunya” (h.115). Terdapat motif yang begitu kompleks dari sekadar penafsiran tertentu atas al-Qur’an dan Hadis Nabi. Nah, di sanalah problem besar pembahasan terorisme yang selalu mengundang pro-kontra. Sesuatu yang sangat kompleks, namun direspon oleh berbagai kalangan hanya dari kacamatanya yang spesifik, termasuk dalam konteks tulisan ini, hanya direspon dalam perspektif penafsiran ajaran Islam.

Jalan keluarnya, pendidikan anti-terorisme harus dimulai dari kesadaran duduk masalah yang kompleks, meski hanya mampu direspon dalam satu sisi kecil saja. Idealnya jelas, kajian terorisme membutuhkan sudut pandang multidisiplin keilmuan yang kompleks pula. Namun, jika hal itu sulit, maka setidaknya merespon dalam satu bidang tertentu yang merupakan kemampuan kita sudahlah cukup. Dengan catatan tanpa menutup mata dan kesadaran bahwa terorisme merupakan suatu yang sangat kompleks. ( RBY )