Penghuni Lapas Pati Eks Teroris ISIS Ikrar Setia NKRI

BERSUMPAH, Terpidana teroris berinisial AR terlihat mencium bendera merah-putih Indonesia di Lapas IIB Pati kemarin (11-5). (ANDRE FAIDHIL FALAH-Media)
BERSUMPAH, Terpidana teroris berinisial AR terlihat mencium bendera merah-putih Indonesia di Lapas IIB Pati kemarin (11-5). (ANDRE FAIDHIL FALAH-Media)

PATI – Jaringan teroris ISIS berisial AR yang dipenjara di Lapas IIB Pati akhirnya bertaubat. Dia bersumpah untuk berikrar setia kepada NKRI pada Rabu (11/5).

Dalam ikrarnya, AR berjanji setia kepada NKRI. Dan akan melindungi tanah air dari segala tindakan aksi terorisme yang dapat memecah keutuhan negara.

”Saya melepaskan baiat saya terhadap pemimpin/amir ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi maupun yang menggantikannya (Ibrahim Al-Hasyim Al-Quraishi). Saya juga melepas pemimpin organisasi radikal lainnya,” kata AR dalam ikrarnya.

Dia juga menyepakati bahwa UUD 1945 dan Pancasila ialah hasil kesepakatan para pendiri bangsa. Itu sebagai pedoman kehidupannya dalam berbangsa dan bernegara.

”Saya menyesali kesalahan yang telah saya lakukan (menjadi jaringan teroris). Saya tidak akan bergabung dengan kelompok teroris lainnya yang terlibat dimanapun di dunia ini,” tandasnya.

Kegiatan ikrar itu kegiatan ikrar ini dilaksanakan di Aula Lapas Pati kemarin (11/5). Acara tersebut dihadiri oleh Kapolres Pati, Wakapolres Pati, Perwakilan Kodim Pati, Kemenag Pati, BNPT, Dendus 88, BIN, BAIS dan Bapas Pati.

Dalam acara ikrar ini WBP teroris membaca ikrar/sumpah setia NKRI, membaca Pancasila, memberikan penghormatan kepada bendera merah putih dan mencium bendera merah putih. Itu merupakan persyaratan dalam janji setia NKRI.

”Istri dan anak WBP Terosisme juga turut hadir dan menyaksikan acara Ikrar Setia NKRI pada hari ini. Ini pembinaan kerja sama BNPT, Densus dan Kemenag Pati secara continue. Pernyataan ikrar kasus terorisme itu sebagai bagian dari program deradikalisasi terorisme di lapas. Harapannya, WBP yang sudah ikrar ini dapat menjalani hidupnya lebih baik dan dapat bersoasialisasi dengan masyarakat,” kata Kalapas Pati Febie Dwi Hartanto.

Kasus AR ini menyangkut UU No. 15 Tahun 2003. Hukumannya tiga tahun penjara. Sudah melalui masa tahanan 1 tahunan di Batang. Di Lapas Pati, melanjutkan masa tahanannya.

”Saat itu, AR ketangkap di sekitar Batang. Di Lapas Pati ini berdasarkan hasil profiling kantor pusat. Tidak ditaruh tempat domisilinya (Batang, Red) karena hasil profiling kantor pusat. Hasilnya, lebih bagus kalau AR ditempatkan di Pati,” ujar Febie.

Selama dipenjara di Pati, kegiatan AR hanya fokus pembinaan keagamaan. Dia ditahan di sel tersendiri (satu kamar sendiri). Proses kegiatannya pun terbatas. Hanya fokus ibadah. Tak seperti Napi lain.

”Jadi bukan karena keberhasilan pembinaan. Melainkan, hasil pencerahan dan hidayah. Kami hanya memberikan waktu dan ruang kepada AR untuk berdiskusi dengan ulama yang kami sediakan. Akhirnya, yang bersangkutan merasakan kekeliruannya. Akhirnya kembali menyatakan setia kepada NKRI,” paparnya. ( ahir )