Pemerintah Indonesia Pernah Cegah Penceramah Radikal Masuk

Andi Widjajanto.
Andi Widjajanto.

Jakarta – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (LemhannasAndi Widjajanto menegaskan pemerintah pernah mencegah penceramah yang menyebarkan radikalisme dan separatisme masuk ke Tanah Air. Tindakan itu sudah beberapa kali dilakukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).

Akan tetapi, Andi tidak membeberkan secara terperinci penceramah yang dicegah masuk ke Indonesia. “Pada dasarnya, sudah terjadi beberapa kali kalau di lihat catatan Imigrasi. Kita sudah melakukan beberapa kali tentang itu,” tegas gubernur Lemhannas di sela-sela perayaan HUT ke-57 Lemhannas di gedung Lemhannas, Jakarta, Jumat (20/5/222).

Pernyataan tersebut diungkapkan Andi untuk menanggapi tindakan pemerintah Singapura yang menolak kedatangan penceramah Ustaz Abdul Somad (UAS) beserta rombongannya sebanyak enam orang pada Senin (16/5/2022). Andi mengatakan pemerintah RI pun berkomitmen menindak tegas oknum yang mengancam kedaulatan NKRI untuk dating ke Indonesia.

“Hal-hal yang mengganggu kedaulatan kita, benar-benar yang mengancam kita, ada tindakan-tindakan tegas dari pemerintah,” ujarnya.

Diberitakan, Singapura menolak kedatangan UAS beserta rombongannya karena beberapa alasan. Berdasarkan keterangan dari Kementerian Dalam Negeri Singapura atau MHA (Ministry of Home Affairs), pemerintah Singapura menolak UAS mengunjungi negaranya hingga harus dijatuhi not to land.

MHA membenarkan UAS tiba dari Batam, bersama enam pendamping di Terminal Feri Tanah Merah Singapura pada Senin (16/5/2022). UAS diwawancara. Lalu, kelompoknya ditolak masuk ke Singapura dan ditempatkan kembali di feri menuju Batam pada hari yang sama.

Terdapat beberapa alasan penolakan kedatangan UAS. Misalnya, UAS berkhotbah bahwa aksi bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel Palestina dan menganggap itu sebagai operasi syahid. MHA juga menilai UAS dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi yang mana tidak dapat diterima di negara kalangan masyarakat multi-ras dan multi-agama, seperti Singapura.

UAS pun dianggap merendahkan komunitas agama lain. UAS juga disebut pernah membuat komentar yang merendahkan anggota komunitas agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib Kristen sebagai tempat tinggal “jin (roh/setan) kafir”. Ini tentu menjadi topik sensitif yang menyinggung banyak pihak nonmuslim, khususnya di Singapura.

Berikutnya, UAS melabelkan agama lain sebagai kafir. MHA mengatakan UAS secara terbuka kerap menyebut nonmuslim sebagai kafir. Perkataan ini membuatnya dianggap tidak bisa menerima dan menghargai keberagaman agama.

MHA dalam keterangan di situs resminya juga menyebut UAS berusaha masuk ke Singapura dengan berpura-pura untuk melakukan kunjungan sosial. Pemerintah Singapura memandang serius setiap orang yang menganjurkan kekerasan dan mendukung ajaran ekstrimis dan segregasi. ( M.Robi )

Artikel ini telah tayang di Bersatu.com dengan judul Lemhannas: Indonesia Pernah Cegah Penceramah Radikal Masuk