Organisasi Saifuddin Ibrahim

Pendeta Saifuddin Ibrahim
Pendeta Saifuddin Ibrahim

TANGERANG – Menyerang Islam secara membabi buta, Pendeta Saifuddin Ibrahim saat masih menjadi muslim ternyata pernah aktif dalam gerakan Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah 9 (NII KW IX) pimpinan Abu Toto.

Menurut penuturan sang anak, Saddam Hussein, Saifuddin aktif merekrut anggota NII sejak 1999 hingga 2006 saat menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Az Zaytun, Indramayu, Jawa Barat. Namun, Saifuddin diduga mulai terpapar paham NII sejak awal 1990-an.

Seperti apa gerakan NII KW 9 itu? Berikut penelusuran media dari berbagai sumber, Sabtu (9/4/2022).

NII adalah singkatan dari Negara Islam Indonesia yang merupakan nama sebuah gerakan keislaman dengan tujuan mendirikan negara Islam di Indonesia.

Gerakan ini pernah memproklamasikan berdirinya NKA – NII (Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia) pada tanggal 7 Agustus 1949.

NKA NII disebut juga sebagai Darul Islam (rumah, wilayah, negara Islam) atau lebih dikenal dengan sebutan DI2.

Komandan tertinggi gerakan ini bernama Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. DI memiliki tentara sendiri yang disebut TII (Tentara Islam Indonesia).

Situs https://journals.itb.ac.id menulis dari pendekatan sejarah, perkembangan NII dibagi menjadi tiga periode.

1. Periode gerakan bersenjata (1947-1962).

Periode ini dimulai pasukan Siliwangi hijrah ke Yogyakarta serta penguasaan DI-TII terhadap Jawa Barat yang dianggapnya sebagai wilayah tanpa kekuasaan (vacuum of Power).

Periode ini berakhir dengan eksekusi mati Kartosoewirjo oleh pemerintah pada tanggal 5 September 1962.

2. Periode tahun 1963-1996.

Pimpinan NII pada waktu itu bersifat kolegial, kemudian NII dipimpin oleh Daud Beureuh. Periode ini berakhir dengan penyerahan tongkat imamah dari Adah Djaelani kepada Abu Toto Abdus Salam. Pada operiode ini, NII terpecah pecah menjadi beberapa faksi.

3. Periode 1996

Disebut sebagai periode Al-Kahfi (Gerakan bawah tanah) yang dipimpin Abu Toto Abdus Salam alias Panji Gumilang. Karena Abu Toto merupakan komandan NII Komandemen Wilayah IX, NII yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan NII KW IX.

NII KW IX ini ditengarai telah melakukan penyimpangan dalam menafsirkan ayat Al-Quran dengan tujuan untuk menjustifikasi pendapat- pendapat mereka dalam kerangka mendirikan Negara Islam.

Selain itu, mereka pun melakukan gerakan bawah tanah, bersifat ekslusif, dan dinilai memeras anggotanya dengan infaq dalam jumlah yang sangat besar. Isu ini telah meresahkan masyarakat sehingga memaksa MUI, Depag, dan kepolisian turun tangan.

Ken Setiawan, mantan anggota NII KW IX yang saat ini memimpin NII Crisis Centre, lembaga swadaya yang membantu para korban pengrekrutan kelompok itu, menjelaskan tentang kaitan gerakan tersebut dengan pondok pesantren Al Zaytun di Indramayu, Jawa Barat.

Ken Setiawan mengatakan, semasa kepemimpinan almarhum Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo hanya ada tujuh komandemen.

“Komandemen Wilayah VIII di Lampung dan Komandemen Wilayah IX untuk Jakarta baru ditambah belakangan,” kata Ken yang empat tahun belajar di Ponpes Az Zaytun, Indramayu.

Dikatakannya, penambahan itu terjadi semasa kepemimpinan Adah Djailani. NII KW IX yang dipimpin Abu Toto mencapai sukses besar dalam perekrutan jemaah dan pengumpulan dana.

Dari sukses pengumpulan dana inilah, ujar Ken, Panji Gumilang membangun komplek pondok pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, yang cukup besar dan relatif berfasilitas bagus. Kawasan Al-Zaytun inilah yang dijadikan “ibu kota” oleh NII KW IX.

Dalam sebuah diskusi ilmiah pada tahun 2011, pengamat terorisme yang pernah bergabung NII KW IX, Al Chaidar, menyebut NII pimpinan Panji Gumilang (Abu Toto) adalah NII palsu.

Menurutnya, NII KW IX merupakan bentukan intelijen pada tahun 1992. Apa tujuannya? Berdasarkan pengalaman dan penelitian yang dilakukannya, NII KW IX dibentuk sebagai bagian dari program deteksi pemerintah untuk melawan gerakan radikalisme di Indonesia.

“Panji Gumilang akan dibiarkan karena menjadi program deteksi pemerintah. Sangat efektif untuk mengonter radikalisme di Indonesia. KW IX bentukan pemerintah untuk melakukan deradikalisasi gerakan radikal,” paparnya.

Al Chaidar mengatakan, NII palsu dibentuk untuk meredam gerakan dan ekspansi NII asli. Ia mencontohkan di setiap daerah di mana di situ muncul gerakan NII asli, bakal ada NII tandingan yang dimaksudkan memecah perhatian masyarakat.

“Misalnya yang asli dakwah di satu daerah, yang palsu akan ada juga. Nanti akan ada yang terjerumus ke (NII) asli, ada yang ke NII palsu. Yang ke NII palsu akan dikeruk hartanya,” katanya.

Bagaimana bentuk program deradikalisasi itu? Al Chaidar menggambarkan, setelah para korban NII KW IX tersadar telah dikeruk hartanya, akan ada cap buruk dan kapok bergabung dengan organisasi tersebut.

NII asli, menurut Chaidar, masih menjalankan pola-pola tradisional. Saat ini, kata dia, ada 14 faksi NII asli yang dipimpin oleh 14 imam di mana masing-masing kelompok itu merasa paling benar. “Masing-masing merasa benar. Di luar faksi, dia dianggap tidak legitimate,” ujarnya. ( Abdul Mapakhir )