Maraknya Konten Intoleransi dan Radikalisme di Media

Ilustrasi Radikalisme Media.
Ilustrasi Radikalisme Media.

Jakarta BNPT Sebut Hampir 80 Persen Konten Keagamaan di Medsos Berunsur Intoleran dan Radikal.

Baru-baru ini BNPT mengungkapkan bahwasannya konten-konten tentang keagamaan di media 67% terutama di media sosial lebih di dominasi oleh konten-konten intoleran dan radikal. Data tersebut diambil dari beberapa Lembaga survei peranan media dalam kaitannya dengan intoleransi dan radikalisme di media sosial.

Hal tersebut memang benar-benar terjadi di media sosial sekarang ini yang mana banyak sekali konten-konten intoleran dan radikalisme terutama di media sosial seperti di twitter, Instagram, dan tik tok. 

Di media sosial dapat kita jumpai banyak sekali konten-konten intoleransi yang di posting oleh orang-orang tanpa memikirkan bagaimana akibatnya jika dia memposting hal tersebut. Sebagai salah satu contoh saya menemukan cuitan salah satu pengguna twitter.

Ini membuktikan bahwasannya di Indonesia masih minimnya sikap toleransi antar umat beragama yang bisa menyebabkan perecahan. Kita sudah diajarkan untuk tidak mencampuri urusan umat lain selama hal tersebut tidak menganggu kita. 

Menurut penulis memang dari kecil kita harus mendidik anak-anak kita nanti agar memiliki sikap toleransi yang tinggi karena kita hidup di Indonesia, yang mana kita akan banyak sekali menemui keberagaman agama dan budaya.

Peran penting orangtua dan lingkungan keluarga kepada anak-anak dalam memberikan nilai nilai toleransi yang benar dan tidak tidak membiarkan anak-anak mempelajari sendiri tanpa adanya pengawasan. Karna semakin berkembangnya teknologi harus di imbangi dengan pendidikan karakter kepada anak yang itu di dapat dari orang tuanya. ( M.Robi )

Sumber : Kompasiana.com