Jakarta – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengkalim semakin humanis dalam penanganan kasus tindak terorisme di Indonesia. Menurut data Densus 88, dari tahun 2020 hingga 2022 jumlah penangkapan terkait tindak terorisme meningkat.  

Namun jumlah perlawanan yang dilakukan pelaku tindak teror justru menurun. Data tersebut disampaikan Densus 88 dalam pertemuan dengan Komnas HAM, Selasa (15/3/2022).  

“Memang  kita ingin menunjukkan proses penegakan hukum terhadap tindak pidana terorisme ini dengan penangkapan yang begitu besar namun kita melihat bahwa tren semakin ke sini perlawanan dari pelaku semakin menurun,”

Kata Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi (Kabag Renmin) Densus 88, Kombes Pol Aswin Siregar di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat. 

Menurut Aswin, data tersebut menunjukkan proses penegakan hukum yang dilakukan Densus 88 semakin humanis. Dia menjelaskan penangkapan pelaku terorisme bertujuan untuk program deradikalisasi.  

“Tentu hal ini menunjukkan betapa proses penegakan yang semakin humanis yang dilakukan Densus 88 menjadi semakin efektif. Karena tujuan penangkapan-penangkapan atau penegakan hukum tersebut adalah proses deradikalisasi,” tandasnya. 

Program deradikalisasi dimaksudkan agar pelaku sadar dan dapat kembali ke tengah masyarakat.  “Di mana kita menginginkan mereka-mereka yang telah tertangkap tersebt dapat di reintegrasi kembali, diedukasi untuk bergabung kembali dan menjadi bagian  kita semua, dari NKRI dari masyarakat Indonesia,” katanya.

“Perubahan yang dilakukan Densus ini menunjukkan kinerja yang semakin efektif dan humanis dalam pelaksanaan tugas,” ucap Aswin. ( Abdul Mapakhir )