Korban Teror Mumbai: Kami Telah Mencari Keadilan Selama 14 Tahun

Setelah acara Kongres Global Korban Terorisme selesai, beberapa penyintas menaruh bunga untuk menghormati para korban terorisme yang meninggal dunia
Setelah acara Kongres Global Korban Terorisme selesai, beberapa penyintas menaruh bunga untuk menghormati para korban terorisme yang meninggal dunia

MumbaiKongres Global Korban Terorisme yang diadakan oleh Badan PBB pada 8 hingga 9 September kemarin menjadi platform bagi para penyintas untuk menceritakan kisah-kisahnya, beberapa penyintas mengungkapkan mereka telah menunggu selama bertahun-tahun untuk mencari keadilan.

Salah satunya adalah Karambir Singh Kang, korban selamat dari teror Mumbai India. Ia merupakan seorang mantan manajer umum Taj Hotel yang diserang pada 26 November 2008 silam. Ia telah kehilangan istri dan dua anaknya yang masih kecil karena serangan teror tersebut.

Selama 14 tahun Kang dan yang lainnya mengaku terus mencari keadilan karena orang-orang yang ada dibalik serangan teror masih berkeliaran dengan bebas.

“Orang-orang yang merencanakan, membiayai, dan mengorganisir serangan itu tetap bebas. Sementara kami telah menghabiskan 14 tahun yang panjang dan menyakitkan untuk mencari keadilan,” ujar Kang dalam piadatonya di Kongres yang diadakan di New York pada Kamis (8/9).

Sedikitnya 34 nyawa hilang pada hari serangan itu, sementara lebih dari 1.000 nyawa berhasil diselamatkan dari dalam hotel.

Kang mendesak agar negara bergabung bersama mereka untuk menentang dan memastikan tidak ada lagi pelabuhan yang aman bagi para teroris, sehingga kejahatan keji yang pernah dialaminya tidak akan kembali terulang dan terus mengakar.

Korban lainnya adalah Nidhi Chaphekar, seorang manajer kabin penerbangan Jet Airways yang selamat dari serangan 2016 di Brussels, Belgia. Chaphekar menderita lebih dari 20 persen luka bakar, patah tulang, gendang telinga pecah serta tubuh yang  tertusuk pecahan logam. Dia menjalani lebih dari 20 operasi setelah serangan itu.

Dalam pidatonya, Chaphekar mengungkapkan bagaimana privasi miliknya, serta keluarganya terus dilanggar oleh media setelah serangan itu.

“Sangat penting untuk menyampaikan berita kepada publik tentang serangan teroris, termasuk penderitaannya, tetapi kita perlu menggarisbawahi bahwa hak atas privasi lebih diutamakan daripada hak atas informasi dalam masyarakat sosial atau demokratis mana pun. Media perlu melihat itu ke dalamnya,” jelasnya.

Bel pintu dan telepon yang terus berbunyi, serta foto-foto dirinya yang dipotret tanpa izin membuat keseluruhan hak-hak privasinya menjadi hilang.

Dengan adanya konferensi ini, seluruh korban terorisme yang telah lama mencari keadilan kini memiliki platform untuk menceritakan pengalaman dan tantangan yang dihadapinya setelah mengalami serangan teror. Badan PBB dalam pertemuan ini menggarisbawahi akan selalu berupaya untuk berdiri bersama para korban, serta menegakkan hak-hak mereka secara efektif.

“Solidaritas dan dukungan untuk korban terorisme adalah kewajiban moral dan kemanusiaan dan hak asasi manusia,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PBB Amina Mohammed. ( RBY )