Kolaborasi Itu Penting untuk Lawan Radikalisme

Kolaborasi
Kolaborasi

Jakarta – Berbicara tentang aksi terorisme di Indonesia, tentu tidak bisa dilepaskan dari kelompok Jamaah Islamiyah. Kelompok ini telah meledakkan Bali secara sistematis, dan menewaskan ratusan orang dari berbagai negara. 

Kelompok ini telah memikirkan cara untuk mendapatkan pendanaan. Mereka juga memikirkan untuk membeli kendaraan, yang diisi dengan berkilo-kilo bahan peledak. Mereka juga telah memikirkan cara membawa kendaraan tersebut dari Lamongan, Jawa Timur ke Bali.

Artinya, untuk membuat perencanaan peledakan, mereka melakukan apa saja untuk mewujudkannya. Untuk itulah, untuk melawan terorisme, perlu kolaborasi semua pihak. Karena terorisme telah melibatkan banyak pihak untuk mewujudkan aksinya.

Ketika kelompok ISIS berkuasa, juga melibatkan banyak pihak. Sebut saja ketika ledakan bom Thamrin pada awal 2016 lalu. Peledakan tersebut ternyata sudah direncanakan jauh-jauh hari oleh Aman Abdurahman ketika masih dipenjara, setahun sebelumnya. 

Melalui jaringannya, dia meminta seseorang untuk mencari coordinator lapangan, yang kebetulan ketika itu berprofesi sebagai sopir angkot. Meski sopir angkot, dia pernah terlibat dalam perampokan bank, untuk membiayai jaringan teroris di Medan ketika itu. 

Kemudian ditunjuk eksekutor untuk melakukan aksi teror. Dari cerita ini saja, menunjukkan bahwa perencanaan sudah dilakukan jauh hari, membutuhkan dukungan banyak pihak dan segala macamnya.

Sekali lagi, perlu kolaborasi semua pihak untuk bisa melawan radikalisme dan terorisme. Kenapa radikalisme juga perlu dilawan? Karena akar dari terorisme adalah radikalisme. Dan bentuk dari radikalisme itu sendiri, terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. 

Di era sekarang ini, marak sekali ujaran kebencian. Tanpa disadari bibit radikalisme juga bisa muncul dari ini. Umumnya, kebencian ini seringkali diarahkan karena perbedaan keyakinan, pandangan, pilihan politik atau hal yang lain. Hanya karena berbeda, antar sesama bisa saling membenci.

Berawal dari bibit kebencian ini, seseorang bisa terjerumus ke dalam kelompok radikal atau teroris. Karena kebencian yang membanti buta, antar sesama bisa saling hujat, saling provokasi, bahkan saling melakukan perbuatan intoleransi. Banyak contoh semacam ini terjadi di sekitar kita. Kondisi inilah yang harus dicegah. Karena kebencian bisa mendekatkan diri pada radikalisme, dan radikalisme akan mendekatkan diri pada terorisme. Dan untuk bisa mencegah hal ini terjadi, sekali lagi diperlukan kolaborasi antar pihak.

Meluruhkan pola pikir yang salah tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan multi pihak untuk melakukannya. Untuk meredam di dunia pendidikan, diperlukan para tenaga pengajar yang mempunyai pemahaman agama yang benar, punya pemahaman kebangsaan yang tepat, dan paham bagaimana memanusiakan manusia. 

Untuk para pejabat, tokoh agama, tokoh publik, tokoh masyarakat ataupun tokoh politik, juga harus bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Tidak perlu saling mengumbar kebencian di depan publik. Karena sekali lagi, kebencian hanya akan mendekatkan diri dalam lubang radikalisme.

Sekarang ini adalah eranya untuk kolaborasi. Eranya saling bergandengan tangan. Dan eranya untuk saling sinergi satu sama lainnya. Hanya dengan saling berkolaborasi, segala sesuatnya akan mudah. Dan dengan saling sinergi, upaya untuk mewujudkan Indonesia yang toleran, beragama, dan tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal, akan mudah diwujudkan. Mari buang jauh bibit kebencian dalam diri, yang hanya akan mendekatkan diri pada bibit radikalisme, intoleransi dan terorisme. ( M.Robi )