Ketua MPR Ajak Lawan Radikalisme & Demoralisasi Lewat 2 Buku Barunya

Ketua MPR Ajak Lawan Radikalisme dan Demoralisasi Lewat 2 Buku Barunya
Ketua MPR Ajak Lawan Radikalisme dan Demoralisasi Lewat 2 Buku Barunya

Jakarta – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengajak masyarakat untuk melawan radikalisme dan demoralisasi bangsa. Hal tersebut diungkapkan olehnya saat meluncurkan buku ‘Indonesia Era Disrupsi; Utak Atik Politik Negara di Era Disrupsi dan Pandemi’, serta ‘Vaksinasi Ideologi Empat Pilar; Melawan Radikalisme dan Demoralisasi Bangsa’.

Kedua buku tersebut merupakan buah pikirannya atas berbagai perkembangan yang dihadapi bangsa Indonesia selama setahun terakhir.

“Saya menyadari, kedua buku ini hanya menangkap sebagian dari begitu banyak aspek dan dimensi yang penting untuk kita pahami dan sikapi, khususnya terkait fenomena dan dampak dari era disrupsi, serta upaya mencegah radikalisme dan demoralisasi bangsa,” katanya dalam keterangannya, Rabu (10/8/2022).

“Saya juga ingin mengingatkan bahwa tahun depan, kita sudah semakin dekat dengan kontestasi politik menjelang Pemilu 2024. Saya berharap, di tengah kontestasi politik, kesadaran dan komitmen kebangsaan kita tetap terpelihara. Meskipun berangkat dengan beragam warna politik, namun muara akhir dari kontestasi politik yang kita jalani hanyalah satu, yaitu terwujudnya pemerintahan negara yang mampu melindungi seluruh rakyat, memberikan rasa aman, dan mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan,” imbuhnya.

Dalam acara peluncuran tersebut turut dihadiri oleh Turut hadir para pimpinan MPR RI antara lain Ahmad Basarah, Yandri Susanto, Arsul Sani, dan Fadel Muhammad. Serta acara tersebut turut dihadiri oleh pimpinan DPD RI Sultan Baktiar Najamudin, Letjen TNI Mar (Purn) Nono Sampono, dan Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi.

Hadir pula para intelektual yang menjadi narasumber bedah buku, antara lain Anggota DPD RI sekaligus Pakar Hukum Tata Negara Prof. Jimly Asshiddiqie, Rektor IPB University Prof. Arief Satria, Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, serta pengamat marketing Edo Lavika.

Menurut Jimly Asshiddiqie kata dan tulisan yang terdapat di buku tersebut mengandung refleksi dan aksi yang dapat merubah sebuah keadaan.

“Kata serta tulisan yang mengandung refleksi dan aksi dapat merubah sebuah keadaan. Saya berharap berbagai pemikiran Pak Bamsoet, yang diterjemahkannya dalam tulisan di kedua buku ini, bisa menggugah kita semua untuk mengubah keadaan. Khususnya dalam menghadapi disrupsi dan melawan radikalisme,” jelasnya.

Sementara itu Arif Satria menjelaskan sejarah dunia membuktikan bahwa setiap terjadinya disrupsi selalu memberikan ujian kepada manusia seberapa cepat mereka belajar. Sehingga disrupsi justri bisa melahirkan inovasi.

“Dalam kedua bukunya ini, Pak Bamsoet menekankan bahwa dalam menghadapi disrupsi maupun melawan radikalisme, harus dimulai dengan revolusi mindset. Sehingga menjadikan kita sebagai bangsa yang optimis. Bangsa yang tidak hanya menunggu atau mencari kesempatan, melainkan menjadi bangsa yang menciptakan kesempatan. Karena jika hanya menunggu akan berakhir dengan harapan, mencari akan berakhir dengan ketidakpastian. Sedangkan jika menciptakan, akan berakhir pada keberhasilan,” kata Arif.

Hal senada turut diungkapkan oleh Purbaya Yudhi Sadewa. Menurutnya berbagai data yang tersaji dalam butu tersebut disajikan secara realtime. Sehingga tulisan pada buku tersebut masih hangat untuk dibaca.

“Seharusnya para ekonom juga menulis seperti Pak Bamsoet. Kejadian krisis 1998 maupun krisis 2008, misalnya, seharusnya pada waktu itu bisa langsung ditulis, sehingga bisa menjadi pelajaran bagi kita. Melalui kedua bukunya ini, Pak Bamsoet memperlihatkan kepada kita tentang pentingnya mendapatkan data secara cepat, menganalisis data secara tepat, serta menyajikannya dalam tulisan yang enak dibaca,” ujarnya.

“Bahkan dalam menyampaikan kritikan (unek-unek) di dalam bukunya ini, Pak Bamsoet bisa menuliskannya secara elegan. Kedua buku ini bisa menjadi pegangan, apabila di masa mendatang kita menghadapi disrupsi maupun mencari cara melawan radikalisme, bisa langsung melihat jurusnya di dalam buku ini,” tutup Purbaya. ( RBY )