Eks napiter Machmudi Hariono alias Yusuf

Semarang – Jangan sampai anak-anak terjerumus radikalisme dan terorisme. Itulah yang ada dibenak Machmudi Hariono alias Yusuf, mantan narapidana kasus terorisme ketika berharap anak-anaknya tidak menapaki jalan yang pernah dilaluinya.
Yusuf ditangkap Densus 88 antiteror pada 9 Juli 2003 lalu di rumah daerah Taman Sri Rejeki Kota Semarang. Sejumlah amunisi dan bom rakitan diamankan dari tangan Yusuf. Ia pun divonis 10 tahun penjara dan sempat menjalani masa hukumannya di Nusakambangan.

Sampai bebas dari penjara, Yusuf memang belum berkeluarga. Namun setelah menikah dan memiliki anak, Yusuf sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Dia tidak ingin satupun anaknya terjerumus ke jalan yang pernah dia tempuh.

“Kita pilih pendidikannya, kita juga sudah ada rambu, tahu jika ada unsur radikalisme. Jangan sampai seperti ayahnya dulu,” ujar Yusuf.

Yusuf juga berusaha mengenalkan kepada anak-anaknya untuk mencintai negaranya, Indonesia. Toleransi dan saling menghargai juga ia ajarkan termasuk mengajak anak jika ada acara deradikalisasi.

“Kegiatan dari Kesbangpol, kita ajak. Menumbuhkan kesadaran cinta negeri,” ujar mantan kelompok Jamaah Islamiyah itu.

Yusuf kini mengurus Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) yang beranggotakan para eks napiter. Para anggota Persadani juga merasakan hal serupa soal anak mereka, bahkan ada yang sempat mendapatkan stigma negatif dari lingkungan ketika ayahnya ditangkap terkait kasus terorisme.

“Dengan ditangkap sang ayah, dipidana, ada yang menunda pendidikan SMA, bekerja bantu ibu. Ada fenomena memilih sekolah di tempat jauh. Apa yang kami lakukan itu berimbas ke anak-anak. Apalagi ketika di tengah kita masih ada kejadian-kejadian (aksi terorisme lain). Perasaan sang anak ini walau tidak ada bully, secara mental mereka sadar dari keluarga yang sempat terlibat,” jelasnya.

Oleh sebab itu para eks napiter yang kini bergabung dengan Persadani benar-benar memperhatikan anak mereka. Mereka berupaya menjadi sosok ayah yang bisa dijadikan panutan baik. Tidak terpungkiri anak menjadi salah satu titik balik para eks napiter kembali ke jalan yang benar.

“Kini orang tua sudah hadir bersama mereka sebagai pupuk dan obat masa lalu. Sang anak itu kan generasi penerus. Salah satu cara memutus (aksi radikalisme) dengan tidak memilih jaringan tapi memilih keluarga,” tuturnya.

Yusuf dan Persadani tidak sendiri melakukan deradikalisasi untuk rekan-rekan mereka mantan eks napiter. Hari ini sejumlah pengurus Persadani beserta istri dan anak berkumpul dengan komunitas Rumah Pancasila dan Klinik Hukum. Para anak dari eks napiter mendapatkan dukungan dengan bantuan alat pendidikan dan uang tunai.
Kanit 3 Subdit 4 Direktorat Intelkam Polda Jateng, Kompol Muhamad Kholid mengatakan acara tersebut merupakan salah satu tindak lanjut peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme.

“Jadi kami dari Polda Jateng implementasi Perpres tersebut, melakukan pembinaan melalui dengan silaturahmi dengan rekan-rekan Persadani yang notabene selema ini merupakan wadah dari saudara kita yang pernah ikut melaksanakan kegiatan atau terlibat gerakan terorisme. Dengan kegiatan ini semua bisa kita akomodir melalui program deradikalisasi,” jelasnya.

Sementara itu seorang pendamping eks napiter, Eka Setiawan, yang juga dari Rumah Pancasila dan Klinik Hukum menjelaskan para anak eks napiter juga butuh perhatian. Pemerintah juga tidak bisa sendiri bertindak, maka pertemuan kali ini merupakan salah satu langkah membantu upaya pemerintah untuk deradikalisasi.

“Kan ada 48 atau 49 lembaga yang menurut Perpres semua bertanggungjawab. BNPT yang mengkoordinir. Itu tingkat jakarta, di bawah ada Polda. Disebutkan pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan, inilah salah satu upayanya. Jadi bisa lewat Ormas, lewat yayasan yang kerjasama dengan otoritas terkait,” ujar Eka. (Rendi)