Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar menyoroti banyaknya konten bermuatan unsur radikalisme dan terorisme di media sosial yang menebar kebencian dan menolak Pancasila sebagai ideologi bangsa. 

Menurut Boy, munculnya konten-konten tersebut dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat, khususnya generasi muda yang masih duduk di bangku sekolah. Boy pun mengajak agar para pelajar tak terpengaruh dan tidak ikut menyebar konten-konten tersebut.

“Jangan sampai pelajar SMA ikut menyebarkan konten negatif sehingga konten tersebut menjadi viral,” ucap Boy dalam Webinar Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Kalangan OSIS SMA/Sederajat Se-Indonesia pada Jumat (26/11/2021).

Boy mengatakan, dengan kreatifitas dan inovasi anak muda, pelajar di sekolah juga didorong untuk membuat konten media sosial yang berisi pesan semangat toleransi, mencintai NKRI, Ideologi Pancasila dan semangat persaudaraan, gotong-royong dan saling membantu.

“Jangan terpancing untuk menyaksikan apalagi menyebarkan konten propaganda radikalisme dan terorisme. Segera laporkan guru maupun orangtua apabila menemukan konten negatif seperti itu,” ucap Boy. 

Menurutnya, kecanggihan teknologi dan cepatnya arus informasi membuat munculnya ruang sosial baru dengan kehadiran media sosial. Pengguna internet di Indonesia mencapai angka 202 juta dimana 80 persennya aktif menggunakan medsos. Sebagian besar pengguna medsos berasal dari kalangan generasi Milenial dan Z yang sekarang duduk dibangku SMA. 

“Anak muda yang banyak menggunakan media sosial harus dapat menggunakan akun media sosialnya dengan baik. Selain itu tetap tekun belajar dan bekerja keras, hormati guru dan orangtua agar dapat menjadi generasi penerus bangsa yang sukses,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim berpesan kepada pelajar SMA untuk paham dan menerima perbedaan serta selalu mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

“Perbedaan itu tidak masalah. Justru kita mencintai perbedaan. Adanya aksi terorisme karena tidak paham dan menerima perbedaan. Padahal Bangsa Indonesia berdiri dari perbedaan,” ujarnya.

Kasubdit Kontra Propaganda pada Direktorat Pencegahan BNPT Kolonel Sus Sujatmiko mengajak pelajar SMA untuk mewaspadai konten-konten propaganda yang tersebar luas dengan berbagai bentuk seperti buku, permainan gim, selebaran dan kajian yang justru bertemakan agenda propaganda radikalisme dan terorisme

Lebih lanjut, Sujatmiko juga mengajak pelajar SMA yang aktif di media sosial tidak mengikuti akun-akun yang kontenya intoleran.

“Jangan follow yang kontennya isinya intoleran dan radikal. Ikuti konten media sosial yang moderat, toleran dan damai,” jelasnya. 

Sejumlah perwakilan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMA se-Indonesia mengikuti Webinar Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Kalangan OSIS SMA/Sederajat Se-Indonesia yang diadakan lewat kerjasama Kementerian Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bersama BNPT. (Rendi)