Keluarga dan Bahaya Radikalisme

Keluarga dan Bahaya Radikalisme
Keluarga dan Bahaya Radikalisme

Jakarta – Apa sih yang terpenting bagi kita saat ini? Keluarga ? Pekerjaan? Bangsa dan Negara ? Atau hal lain?

Kalau boleh menjawab, semuanya penting. Karenanya kita memang harus memakai skala prioritas dalam menentukan mana yang penting bagi kita dalam satu masa.  Sebenarnya yang penting adalah diri kita sendiri dan keluarga. Kesejahteraan, pendidikan, hubungan sosial dan agama harus didapatkan oleh seluruh anggota dengan baik. Sang ayah harus mencukupi kebutuhan keluarga itu dengan baik, atau ibu juga membantu sang ayah. 

Agama, budi pekerti menjadi hal yang sangat penting bagi masa kini dan masa depan. Orang menyebutnya dengan soft skill. Soft skill sering menyangkut soal keyakinan, etika, budipekerti termasuk bagaimana hubungan sosial. Ini menjadi modal penting selain ketrampilan pekerjaan dan bagaimana seseorang mampu meningkatkan produksi pekerjaannya (hard skill). 

Artinya seseorang kini (dan mungkin ke depan) tidak saja dihargai dari bagaimana hebatnya dia dalam pekerjaan, tapi juga dalam bekerjasama, menerima orang lain dan bagaimana dia memiliki toleransi dengan sesamanya. Intinya keseimbangan menjadi hal penting dalam proses produksi atau karya. 

Hanya saja memang ada banyak godaan yang ada di sekitar untuk mewujudkannya. Ada pengaruh korupsi, ada pengaruh narkoba, ada pengaruh ideologi yang melenceng dan lain sebagainya. Itu semua akan menganggu hardskill dan softskill itu. 

Mungkin soal korupsi dan narkoba sudah banyak yang mengulas. Kita mungkin perlu mengulas soal ideologi yang mau tidak mau kita akui, kini sangat banyak kita temui dalam masyarkat dalam intensitas rendah maupun berat. Intensitas rendah semisal soal intoleransi. Soal bagaimana seseorang tidak mau memberikan selamat kepada orang lain saat orang itu merayakan hari rayanya. Ada juga sikap-sikap yang bersifat antipati terhadap kaum yang berbeda keyakinan dengan tidak menghargainya (semisal menutup akses jalan ke gereja) dan lain sebagainya. 

Ada juga dengan intensitas yang berat. Yang masuk dalam skala ini adalah ajaran-ajaran yang mengarah ke pelencengan ajaran agama, seperti bagimana menerjenahkan jihad dengan melawan negara. Bagaimana dia melihat bom bunuh diri sebagai hal yang harus dilakukan untuk menegakkan kebenaran agama dan lain sebagainya. 

Hal yang harus kita lakukan adalah membentengi keluarga anda dari bahaya terorisme. Pemahaman agama di keluarga harus ditingkatkan tentu saja dengan mengambil guru agama yang sesuai dengan norma agama dan kebangsaan kita sehingga anak-anak tidak dicekoki dengan ajaran-ajaran intoleran yang kemudian mengarah ke radikal

Dalam hal ini kita bisa menengok keluarga pengebom tiga gereja di Surabaya yang memiliki guru ngaji yang banyak mempengaruhi keluarga itu sehingga berkeyakinan bahwa mengebom gereja dalam hal ini milik kafir adalah jihad dan dihargai oleh Allah. Padahal pemahaman itu melenceng dari ajaran para ulama dan al Quran itu sendiri. 

Selanjutnya kita mungkin harus tahu apa saja situs-situs yang disukai oleh tiap anggota keluarga. Jika itu game, game yang seperti apa. Jika itu ajaran agama, agama seperti apa dan apakah sesuai dengan ajaran para ulama yang sangat paham agama. 

Dengan memperhatikan hal-hal seperti ini, insyaalah kejadian seperti seorang gadis di Jakarta Tyimur yang tewas karena menyerang mabes Polri tidak terjadi lagi. Sang keluarga tidak tahu apa yang disukai oleh sang gadis yang ternyata gemar mengakses situs radikal

 Dengan segala upaya itu, insyaalah kita bisa mendeteksi dini radikalisem dan terorisme di sekitar kita. Kita bisa melindungi keluarga dari bahaya faham agama yang melenceng. Dengan begitu keluarga kita punya softskill yang baik untuk menghAdapi masa depan. ( M.Robi )