Kelompok-Kelompok yang Dapat Memicu Konflik (Intoleransi & Radikalisme)

Radikalisme
Radikalisme

JakartaIndonesia dikenal sebagai negara multiagama yang didalamnya terdapat beragam agama, seperti Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Buddha, dan juga Hindu. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dalam lambang Garuda Pancasila telah menyatukan bangsa Indonesia dalam satu kesatuan yang utuh dengan satu ikatan bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia juga dikenal dengan negara yang multikultur, yaitu memiliki beragam suku dan budaya.

Sikap dan pemahaman tentang toleransi memiliki peran penting di dalam negara Indonesia untuk menjaga keutuhan NKRI. Sebaliknya, yaitu sikap intoleran yang muncul dari kelompok agama apa pun dapat menjadi pemicu konflik yang membahayakan keutuhan NKRI. Sudah dari lama masyarakat Indonesia hidup dalam suasana yang damai. 

Sikap seperti intoleransi dan tindakan radikalisme yang berhubungan dengan agama hampir tidak pernah terlihat dilakukan oleh individu. Jikalau hal tersebut ada, hanya sebatas dinamika kecil keagamaan dan kebudayaan yang mudah dipadamkan dan diselesaikan secara damai.

Di negara kita tercinta, yaitu Indonesia, hidup dalam keberagaman tampak terlihat jelas selama ini. Akan tetapi, belakangan ini pandagan agama seolah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Agama terkadang bukan hanya dijadikan kepentingan politik secara pragmatis, tetapi juga mulai dikonfrontasikan satu dengan hal-hal lainnya.

Sikap intoleransi dan radikalisme berbau agama mulai muncul di mana-mana, sehingga menyebabkan suasana yang penuh curiga, saling menyalahkan, dan kacau dalam hal kedamaian. Klaim paling benar menjadi pemandangan rutin yang kian kental, seakan nyaris sulit dan kian rumit untuk diselesaikan. 

Menurut Misrawi (2012), pluralitas agama, suku, budaya, dan bahasa di Indonesia memunculkan kekhawatiran banyak kalangan, terutama terkait maraknya intoleransi, dan kekerasan.

Fenomena intoleransi dan konflik bernuansa agama di Indonesia seperti menguatkan kecurigaan bahwa agama sebagai penyebab konflik, pemicu tindak kekerasan, dan beragam perilaku yang terkadang bukan sekadar melahirkan kebencian, tetapi juga permusuhan serta peperangan dahsyat di antara sesama manusia. 

Menurut Kimball (2013:1), sejarah menunjukkan bahwa cinta kasih, pengorbanan, dan pengabdian kepada orang lain sering kali berakar pada pandangan dunia keagamaan. 

Di saat yang bersamaan, sejarah menunjukkan realitas    agama yang dikaitkan langsung dengan contoh terburuk sikap dan tindakan manusia. Hal tersebut berhubungan lurus dengan agama yang dianggap sebagai sesuatu yang paradoks.

Sejarah manusia bagai tak pernah sepi dari konflik, baik dari konflik suku ataupun konflik agama (Yunus, 2014). Berdasarkan data wawancara, diketahui bahwa persoalan bentrokan yang terjadi antarumat beragama umumnya terjadi di tingkat yang paling bawah. Hal ini memperkuat dugaan adanya keterkaitan antara ranah ekonomi dan ranah agama atau relasi dalam ranah ekonomi memengaruhi relasi dalam ranah agama (Pamungkas :2014).

Intoleransi keagamaan dan keberagamaan di Indonesia dinilai akan sangat berbahaya, bila tidak segera diselesaikan dengan cepat dan tegas. Bukan hanya mencidera nlai-nilai keberagaman dan harmoni antar-umat beragama, tetapi juga dinilai akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

Dalam konteks keputusan moral ini, intoleransi keagamaan dan keberagaan dinilai sebagai ancaman yang tidak bisa dianggap angin lalu, tetapi sebagai ancaman serius yang bisa membahayakan keutuhan NKRI. Untuk meredam dan menyelesaikan kasus intoleransi keagamaan dan keberagamaan di Indonesia, harus dilakukan secara komprehensif, berkelanjutan, dan melibatkan banyak pihak. Tak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah, dan tokoh agama, tetapi juga menuntut keterlibatan tokoh masyarakat, kalangan pendidik, dan generasi muda. Tanpa ini, maka kasus intoleransi bukan hanya sulit diredam, bahkan kondisinya bisa kian rumit dan membahayakan keutuhan bangsa dan negara. ( M.Robi )