Suwandi Pranoto – Overseas and Movements Studies CTRS-PTIK. Kajian Pakar tentang Radikal Terorisme baik dalam skala nasional maupun global.

Radikal Terorisme Dan Narasi Alternatif

Oleh : Suwandi Pranoto – Overseas and Movements Studies CTRS-PTIK.

Saat ini sebagian besar strategi kontraterorisme oleh berbagai negara di dunia dalam menangkal Radikal terorisme adalah melawan narasi alternatif sebagai peran penting bagi tindak pencegahan radikal terorisme. Perang narasi alternatif dengan menjangkau berbagai Platform telah terjadi secara lintas budaya, lintas agama, lintas suku, lintas ras, lintas golongan, lintas teritorial, lintas kelas ekonomi; dan sementara setiap individu yang terlibat dalam Radikal terorisme terus menyesuaikan narasi alternatif seiring dengan kebutuhan situasi serta kebutuhan kondisi. 

Penjelasan secara sederhana dan secara ringkas bahwa berbagai kelompok Radikal terorisme memiliki kemampuan intuisi tentang permasalahan, tentang keluhan, tentang aspirasi, tentang impian, tentang dilema dari sumber potensial dalam proses perekrutan sehingga materi narasi alternatif mampu menyentuh target sentimen yang memungkinkan untuk merekrut anggota atau merekrut pendukung dalam jumlah besar pada lebih 80 negara di seluruh dunia; karena kemampuan intuisi Radikal terorisme telah membentuk persepsi serta mempolarisasi dukungan.

Contoh kemampuan intuisi Radikal terorisme dalam membentuk persepsi dan mempolarisasi dukungan, yaitu: keberadaan senapan AMD-65 buatan Hungaria yang merupakan salinan dari senapan serbu Kalashnikov dengan popor lipat, terlihat muncul di tangan para anggota organisasi terorisme Imarat Kavkaz serta para anggota organisasi terorisme Islamic State. Selain Georgia, maka tidak ada negara tetangga di wilayah Kaukasus bagian utara yang menggunakan senapan AMD-65. Pengiriman pertama senapan AMD-65 sebanyak 1186 pucuk yang tiba di Georgia adalah pada tahun 2008.

Implementasi oleh polarisasi dukungan terhadap pergerakan Radikal terorisme tersebut, yakni: membentuk persepsi atas kebutuhan pergerakan Radikal terorisme dengan menyelundupkan senapan AMD-65 dari Georgia melalui pegunungan pada wilayah Kabardino-Balkaria. Fokus solusi Offline agar meminimalkan pergerakan Radikal terorisme, yaitu: peran intelijen kontraterorisme dalam memetakan distribusi geografis atas pola perekrutan Radikal terorisme. Keberadaan narasi alternatif melalui pesan Online merupakan faktor yang sangat prediktif di antara proses pemetaan Radikal terorisme secara geografis.

Narasi alternatif oleh berbagai kelompok Radikal terorisme mampu menjangkau para audiensi yang dituju, berdialektika dengan para audiensi yang dituju, dan menawarkan cara bertindak kepada para audiensi yang dituju; sehingga para audiensi yang dituju dapat membantu menyebarkan narasi alternatif Radikal terorisme secara Online atau secara Offline, melakukan perekrutan berkelanjutan terhadap pergerakan radikal terorisme, menciptakan fasilitas serangan terorisme, membuka aliran material bagi tindakan terorisme, serta menjadi anggota organisasi terorisme lokal atau menjadi anggota organisasi terorisme asing. 

Contoh serangan oleh kelompok Radikal terorisme yang mampu menginfiltrasi sistem keamanan, yakni: pembunuhan Gerald Vincent Bull (seorang insinyur artileri asal Kanada) di Belgia pada tahun 1990 dengan 5,32 ACP, dan mungkin pelaku pembunuhan menggunakan pistol Beretta Model 70. Contoh lain, yaitu: pembunuhan Laurence Foley (seorang diplomat Amerika Serikat) di Yordania pada tahun 2002 dengan pistol 7mm yang dimungkinkan mengacu pada pistol Browning 7.65mm atau 32 ACP. Infiltrasi sistem keamanan sering terjadi pada lingkungan yang tidak konsisten bagi penangkalan Radikal terorisme.

Salah satu kegagalan pada strategi menangkal Radikal terorisme merupakan kegagalan dalam strategi narasi alternatif yang efektif dari kampanye holistik, ketika strategi tindakan secara Offline tidak memperkuat strategi narasi alternatif secara Online. Selain menawarkan kontra-narasi alternatif secara Online, maka strategi menangkal Radikal terorisme perlu mempertimbangkan untuk melakukan strategi kontra-keterlibatan Radikal terorisme dari sumber ahli yang terpercaya agar terbentuk suatu persepsi dalam berhadapan dengan berbagai narasi alternatif Radikal terorisme.

Sejak kejatuhan kekuasaan Muammar Khadafi di Libya, maka berbagai organisasi terorisme serta berbagai kelompok kejahatan (terutama pada wilayah Afrika Sahel) menggunakan senapan AK-103, khususnya senapan versi AK-103-2. Kegagalan strategi kontra-keterlibatan Radikal terorisme telah menjadi salah satu faktor bagi perdagangan senjata secara ilegal, terutama kegagalan narasi alternatif untuk menekan pergerakan Radikal terorisme yang berorientasi aksi. Sedangkan senapan versi AK-103-2 hanya khusus dikembangkan untuk Libya oleh pabrik Izhmash dalam tanda tangan kontrak pada akhir tahun 2003.

Senapan versi AK-103-2 adalah senapan serbu yang mempunyai pengaturan letusan, dan tergolong senapan langka dalam versi Kalashnikov; karena di masa kekuasaan Muammar Khadafi tidak pernah mengekspor senapan versi AK-103-2. Pada tahun 2012 hingga tahun 2014, senapan versi AK-103-2 sangat populer serta menjadi senapan status mahal bagi para pemimpin organisasi terorisme dan para pemimpin organisasi milisi di wilayah Afrika Sahel. Beberapa tahun terakhir, senapan AK-103 standar dengan selektor semiotomatis juga ditemukan di wilayah Afrika Sahel serta di wilayah Afrika Sahara.

Strategi kontraterorisme harus mampu membaca konsentrasi proses Radikal terorisme yang mengelompok di beberapa daerah pada suatu negara, atau mampu membaca konsentrasi proses Radikal terorisme berdasar pola geografis. Tidak ada jalan tunggal menuju Radikal terorisme, namun kondisi sosial ekonomi dan kondisi sosial politik bertanggung jawab atas berbagai pertumbuhan Radikal terorisme serta berbagai perkembangan radikal terorisme. Kesalahan umum dalam proses reintegrasi adalah mengembalikan para individu ke lingkungan awal yang menciptakan Radikal terorisme.***