Jawa, Islam, dan Indonesia Cinta Tanpa Toksik

Ilustrasi Cegah Separtisme
Ilustrasi Cegah Separtisme

JakartaIndonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, dengan Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, dengan 86,88%dari penduduk yang menganut agama dan suku Jawa mewakili 40,22 persen jumlah penduduk Indonesia sebagai pengelola utama demokrasi.

Legitimasi presiden dari suku Jawa telah secara luas dianggap sebagai rumah Islam yang moderat dibandingkan dengan Islam politik yang lebih asertif dan kebangkitan Islam militan yang terjadi di suku-suku Timur Tengah di Indonesia dianggap toksik merusak demokrasi.

Banyak dari penduduk pulau utama Jawa sudah lama menganut perpaduan Jawa, kepercayaan Hindu-Budha dikombinasikan dengan kepercayaan Islam sebagai cinta segitiga dan praktik ritual hingga pergeseran lanskap keagamaan perpaduan dikenal cinta segitiga antara Islam, Jawa, dan Indonesia tanpa toksik.

Seiring meningkatnya sejumlah yang disebut muslim, meningkat literasi mengelola demokrasi, suku Jawa telah berusaha untuk memperdalam iman mereka, dan lebih dekat dengan aturan-aturan Islam dibuktikan periode era reformasi sebagai era ekonomi syariah menuju Indonesia emas.

Kampus universitas telah menjadi lahan subur dengan mahasiswa direkrut ke dalam beragam sel organisasi disiplin yang telah didirikan gerakan Islam yang moderat, seimbang, dan berkemajuan untuk mengambil inspirasi mengelola demokrasi tanpa toksik.

Beberapa dari sel-sel ini telah mengambil inspirasi mereka dari pemikiran fundamentalis dan model organisasi dari gerakan Islam radikal di Timur Tengah membuka perang terbuka antara pemerintah dan rakyatnya telah ada peningkatan yang stabil dalam kesadaran sehingga mereka minim dukungan.

Keberadaan gerakan Islam radikal jelas bahwa untuk sebagian besar periode Orde Lama hingga Orde Baru, jauh dari percikan kebangkitan politik Islam, pembatasan berat dari Presiden Soekarno hingga Presiden Soeharto pada politik Islam organisasi berhasil mencegah kebangkitan politik Islam yang separatisme.

Selama dua dekade pertama Orde Baru atau akhir orde lama, hubungan negara-Islam sebagian besar antagonis, Soeharto menghadapi sedikit oposisi atau perbedaan pendapat Islam yang terorganisir sehingga Badan intelijen militer menjaga aktivitas organisasi Muslim di bawah pengawasan ketat dan militer.

Terjadi pergeseran hubungan negara dan Islam pada tahun 1990-an, dengan hubungan negara dan Islam telah akomodasi muncul ketika Suharto berusaha mengkooptasi kelas menengah Muslim dan kritikus Muslim sebagai basis dukungan baru bagi rezimnya sebagai hubungan yang toksik.

Sebagai bagian dari ini akomodasi mencegah hubungan toksik, Presiden Soeharto menyetujui pembentukan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada tahun 1990  meningkatkan harapan di antara banyak pemimpin Muslim bahwa mereka akan mendapatkan akses aspirasi yang lebih besar ke kekuasaan.

Beberapa  hasil Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) adalah gagasan partai politik Islam didirikan untuk mengikuti pemilihan umum yang demokratis harus dipimpin oleh Suku Jawa pada tahun 1999 setelah Presiden Habibie mencabut pembatasan yang diberlakukan oleh Presiden Soeharto.

Pada organisasi politik selama periode tiga puluh dua tahun pemerintahan otoriter membuka perubahan dramatis dalam nasib politik bagi Abdurrahman Wahid, yang memimpin organisasi massa Islam terbesar, Nahdlatul Ulama terpilih menjadi presiden merawat demokrasi.

Bagi Presiden Abdurrahman Wahid meyakini para pemimpin politik Muslim telah dikeluarkan dari kekuasaan selama beberapa dekade dan hasil dari kolaborasi pemikiran ICMI dalam mengelola demokrasi telah secara luas dianggap sebagai rumah Islam yang moderat.

Indonesia dikenal dengan Islam politik moderat yang lebih asertif dan kebangkitan Islam militan dari suku Jawa memiliki ‘poros tengah’ sedangkan menurut Presiden Jokowi bahwa ICMI akan menjadi kecepatan transformasi dalam menghijrahkan Ibu Kota Negara, digitalisasi ekonomi syariah, dan persiapan besar lainnya pasca covid-19. ( M.Robi )