Indonesia Di Pengaruhi Kelompok Teroris Taliban

Tentara Taliban
Seorang tentara Taliban berjaga di luar pintu masuk pasar Sarai Shahzada di Kabul, Afghanistan pada Minggu 20 Desember 2021. (Foto: AFP)

Jakarta – Kelompok teroris di Indonesia memiliki kaitan dengan kelompok Taliban di Afghanistan. Mereka dinilai senang dengan kemenangan Taliban di Afghanistan, terutama para teroris alumnus pelatihan militer di negara tersebut.

“Orang-orang (jihadis) yang punya backgorund (ikut pelatihan militer) di Afganistan paling senang (dengan kemenangan Taliban,” ujar pengamat terorisme dan mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abbas, dalam podcast Sofyan Tsauri Channel, seperti dikutip, Selasa (22/2/2022).

“Dan yang paling ekstrem (mereka berkata) ‘hanya orang kafir yang tidak suka atas kemenangan Taliban’,” imbuh Nasir.

Orang-orang atau teroris alumni Afghanistan, kata dia menyebut Taliban merupakan jihadis. Sebab dari tahun 80-an mereka perang atas nama agama, hingga akhirnya kembali memenangi pertempuran pada 2021.Taliban dan JI sendiri, menurutnya memiliki kemiripan. Keduanya merupakan kelompok yang berisikan para jihadis.

“Kalau ingin membandingkan Taliban dan JI adalah kelompok bukan suatu negara. Tapi kelompok ini berhasil menjatuhkan pemerintahan. Paling puncaknya menguasai negara. Taliban arahnya menguasai negara. Taliban dijadikan contoh keberhasilan kelompok jihadis mengalahkan pemerintahan negara, hal ini menjadi ancaman buat NKRI jika ada kelompok teror yang ingin seperti Taliban,” papar Nasir.

Lebih lanjut, ia berharap pemerintahan Taliban belajar dari kesalahannya, dengan tak membiarkan para teroris asing atau foreign terrorist fighters (FTF) bermukim dan belajar di negara itu. Pemerintah Indonesia juga diharapkan terus melakukan sosialisasi agar masyarakat Indonesia tak tertipu dan terjebak dengan bujuk rayu, sehingga berangkat ke Afghanistan untuk kemudian menjadi teroris.

“Pemerintah jangan pernah berhenti melakukan kegiatan penguatan deradikalisasi dan memberdayakan orang-orang yang sudah insyaf, harus semakin banyak eks napiter (narapidana kasus terorisme) diberdayakan, terus jangan berhenti,” tutur Nasir.

Pemerintah juga diminta memperhatikan kaum muda, khususnya remaja. Sebab mereka dianggap rentan teradikalisasi, hingga rentan menjadi teroris.Kenapa? Karena yang terpapar banyak anak remaja, jadi kita ingin remaja-remaja aktif dalam bagian dari menolak intoleransi, radikalismebullying, rasisme. Jadi mereka inilah yang berkampanye, mulai dari teman kelasnya teman sekolahnya, menjadi benteng imunitas agar tidak tergelincir ke paham-paham tersebut,” tandasnya. ( Fikri )