Filantropi: Deradikalisasi hingga Keberagamaan Inklusif

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta – Saleh ritual-saleh sosial, merupakan adagium KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang hingga hari ini masih relevan berkait pentingnya hidup selaras. Yakni, keberagamaan dengan ketaatan menjalani titah Tuhan, juga mesti dibarengi dengan merajut kebaikan kepada sesama. Dalam kitab suci, Alquran, perintah ritus salat acap bersanding instruksi zakat. Sementara Nabi Muhammad Saw juga menunjukkan pentingnya peranan agama yang meluas pada aspek sosial. Tak pelak perintah berfilantropi alias berderma amat banyak diuar. Salah satunya, bahwa kedermawanan selain bakal dekat dengan Tuhan dan surga, juga merekatkan relasi persaudaraan.

Kegiatan filantropi dengan berbagai variannya, teranggap sukses mengikis paham ekstremisme beragama. Kita bisa melihat hal ini pada potret eks napi terorisme yang kini telah banyak beraktivitas dengan usaha-usaha kreatif macam kuliner. Ya, BNPT teranggap berhasil melakukan deradikalisasi melalui kegiatan filantropi dengan membangun kawasan usaha untuk eks napi terorisme. Mereka yang pernah dicuci otak hingga berpaham ekstremisme dan melakukan aksi terorisme, diberikan permodalan dan keterampilan berwirausaha.

Kemiskinan dan kepapaan boleh dikata sebagai salah satu pintu masuk utama gerak banal terorisme dan intoleransi. Kita masih mengingat tidak sedikit saudara kita: orang Indonesia, menempuh perjalanan panjang menuju Syiria untuk berbaiat kepada ISIS. Salah satu tujuan mereka, karena janji-janji bakal diberikan limpahan materi setibanya nanti. Begitupun sejumlah para pelaku terorisme, cukup banyak yang berangkat dari kondisi ekonomi lemah. Faktor inilah yang digunakan pihak tidak bertanggungjawab dalam merekrut mereka menggunakan embel-embel janji surga jika mau menjadi “pengantin”.  

Maka tepat, bahwa kegiatan sedekah yang tersistemastis alias tidak sekadar memberi bantuan konsumtif, adalah jalan apik mengembalikan mereka yang pernah terpapar paham ekstremisme kepada keberagamaan yang inklusif. Deradikalisasi melalui strategi filantropi ala BNPT tersebut layak diapresiasi lantaran berupaya mencari akar dari tumbuhnya bibit terorisme. Dengan berwirausaha, eks napi terorisme yang sebenarnya mereka adalah korban kesalahpahaman memaknai ajaran agama pada konteks jihad, misalnya, bakal membuka mata, bahwa ladang “jihad” ternyata amatlah luas dengan semisal bergerak di bidang ekonomi untuk peningkatan kesejahteraan dan kemaslahatan bersama.

Filantropi yang memberdayakan

Dalam Al-Isra ayat keseratus, Allah Swt menyibak sifat dasar manusia, pelit. Pelit atau kikir bisa diartikan enggan berbagi. Ataupun kalau sudi mengeluarkan sebagian apa yang dipunya, tetap selalu muncul rasa kehilangan. Penyakit kikir semakin berlanjut manakala pemberi sedekah (donatur) dihunjamkan perasaan selalu mengingat apa yang telah disumbangkan; yang berpotensi mengungkit-ungkit amal kebaikan itu suatu hari. Maka dalam Alquran maupun hadis, agama selalu menyorongkan kepada manusia gemar bersedekah dengan iming-iming pahala besar. Selain tentunya dijamin bakal diganti berkali-kali lipat atas apa yang telah disedekahkan. Lebih dari itu, kata Nabi Saw, sedekah mampu menolak segala bala.

Meski tidak salah, namun praktiknya, tidak sedikit tujuan bersedekah hanya mengharap pahala, surga, dan timbal balik berlipat ganda rejeki. Kesemua unsur ini bila diamati, sekali lagi hanya kembali pada sifat dasar manusia tersebut; yang berkesan individualistik. Hanya mementingkan urusan surga dan pahala untuk diri sendiri. Maka, berangkat dari sinilah, mari mencoba melihat hikmah dari sisi lain mengapa Tuhan menyuruh berderma.

Melihat sedekah atau dalam pengertian lebih luas mencakup: zakat, infak, wakaf, hibah, dan lain seterusnya itu dari sisi distribusi kekayaan atau unsur sosial. Pembagian/penyaluran “timbunan” kekayaan untuk kemudian diberikan kepada yang membutuhkan semata-mata demi  pemberdayaan kaum miskin. Tidak sekadar dilihat dari sebentuk kewajiban agama yang berpahala. Namun, sebagai upaya agama mengentaskan kemiskinan. Kita tahu, kemiskinan atau ketimpangan ekonomi bisa berujung instabilitas sosial. Zakat dan kegiatan filantropi lainnya, merupakan bukti agama peduli pemberdayaan ekonomi berkeadilan.

Bila dicermati, Islam menaruh perhatian sangat besar kepada kaum miskin, sebagai elan yang harus dibantu oleh si kaya. Hampir-hampir setiap bagian kepemilikan harta-benda, mulai ladang persawahan, peternakan, hingga komoditas barang perdagangan, semuanya memiliki ketentuan untuk dizakati. Bahkan pelanggaran terhadap ritus agama semisal tidak berpuasa atau melanggar sumpah, dikenakan denda berupa kifarat dengan mengeluarkan sebagian harta untuk disedekahkan.

Hikayat masa lampau mewedarkan zakat terkira ampuh mengentaskan kemiskinan, terutama di zaman Khulafa Rasyidin dan masa Umar bin Abdul Aziz dengan Baitul Mal-nya. Poin pentingnya adalah, keberhasilan implementasi aspek penyaluran sedekah dan terutama zakat dalam diktum filantropi seyogianya melalui lembaga atau institusi negara/swasta. Bukan seakdar memasrahkan kepada tiap-tiap individu yang selama ini lebih bertipikal sekadar pemenuhan aspek konsumtif berjangka pendek.

Tak patut menganggap kemiskinan merupakan suratan takdir dan oleh karenanya orang miskin tak perlu sampai diberikan akses/modal pemberdayaan. Dan, menepati bulan Ramadan, kiranya menjadi momentum tepat bagi kaum muslim sebagai titik balik memandang arti lain signifikansi perintah agama berupa bersedekah. Selain bakal lebih dilipatgandakan pahala dan mendapat aneka keutamaan lain, kagiatan filantropi di bulan Ramadan bisa dijadikan langkah awal membentuk karakter keberagamaan yang terbuka (inklusif). Ya, lantaran berderma hakikatnya diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan tanpa melihat latar belakang beragama apa, bermazhab apa. Wallahu a’lam. ( Abdul Mapakhir )