Eks Napiter Poso ingin Kembali Hidup Normal

Ilustrasi
Ilustrasi

PALU – Hingga saat ini belum ditemukan metode yang tepat dalam program deradikalisasi di Indonesia. Namun dari pengalaman yang ada, setidaknya sikap manusiawi aparat hukum memiliki peran penting dalam mengubah pemahaman napi terorisme (napiter). 

Tak bisa dipungkiri pula, penyebaran dan virus untuk masuk dalam pemahaman radikal kian hari semakin intens serta merebak melalui jaringan media sosial juga website di internet, sehingga dengan mudah mempengeruhi setiap orang terjerumus dalam lingkaran terorisme.  

Sikap aparat hukum dalam menangani kasus terorisme ternyata merupakan salah satu kunci dalam mengubah pemahaman napi terorisme (napiter) terkait konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

Dia mengaku, selama menjalani proses hukum dirinya mendapat bimbingan kerohanian maupun keagamaan dari petugas Lapas. Bahkan ketika bebas pada awal tahun 2021 dirinya juga sering mendapat perhatian dari pihak keamanan baik dari Kepolisian maupun TNI.  

MI menuturkan, dirinya terjebak dalam kelompok radikal karena belajar dari media online dan youtube pada umur remaja. Setelah mengarah ke hal- hal tersebut dirinya memilih bergabung dengan salah satu kelompok ternama di wilayah Kabupaten Poso. Dari kelompok situlah dirinya memperoleh link telegram kelompok radikal yang terhubung langsung dengan jaringan ISIS di Suriah.  

Dia menjelaskan, misi dari kelompok JAD itu melakukan aksi amaliyah dengan menyasar tempat hiburan (diskotik) yang ada di dalam perusahaan PT. IMIP serta menyasar senjata aparat kepolisian yang melakukan pengamanan di dalam PT. IMIP. 

MI juga pernah melakukan aksi pembakaran gereja di Poso. Karena keterlibatan itulah dirinya dipenjara selama dua tahun di Lapas Makassar sejak tahun 2019. Kemudian, MI baru menghirup udara segar dan bebas pada 14 April 2021. 

Keterlibatannya sebagai simpatisan kelompok DPO MIT, kata MI merupakan sebuah kesalahan dalam mendalami ilmu agama. Karena selama mengikuti Taqlim di salah satu tempat wilayah Poso tersebut dirinya bisa bergabung dalam link kelompok radikal yang berhubungan langsung dengan jaringan ISIS. Parahnya lagi, melalui link di aplikasi telegram tersebut yang bersangkutan banyak mendapat ilmu perakitan bom. 

MI kini telah menyatakan, saat ini tidak lagi mau berhubungan dengan kelompok DPO MIT maupun simpatisan yang ada di Kabupaten Poso atau kelompok JAD Morowali. 

Saat ditemui di sela- sela aktivitas kesehariannya, MI juga bersedia membantu aparat keamanan khususnya polri dalam memberikan informasi terkait kegiatan radikal yang ada di Kabupaten Poso.  

“Apapun yang terjadi dengan kesadaran diri sendiri tanpa paksaan maupun imbalan dari aparat keamanan maupun instansi lainnya,saya menyatakan diri tidak akan kembali bergabung dengan kelompok radikal baik yang ada di Poso maupun  Morowali, ” tegasnya.  

Selanjutnya, pemerintah melalui aparat keamanannya serta instansi yang berwenang akan hal radikalisme dan terorisme juga diharapakan bisa meningkatkan upaya peningkatkan dan memperhatikan taraf hidup para eks napiter yang ingin kembali ke pangkuan NKRI.  

Selain itu juga, pemerintah harus terus menjaga hubungan silaturahmi serta pengawasan kepada eks napiter dari pihak keamanan baik dari Polri, TNI hingga pemerintah daerah.  

MI juga mengimbau kepada masyarakat khususnya generasi muda wilayah Sulteng dan sekitarnya, untuk tidak mudah terpengaruh dan terhasut, baik melalui kajian-kajian keagamaan serta melalui pemberitaan di sosial media (Sosmed) terkait penyebaran paham radikalisme yang kian merebak. ( Abdul Mapakhir )