Eks Napiter, Dulu Rakit Bom Kini Racik Kebab

Ada menu kebab granat hingga susu TNT di warung milik mantan napiter Yusuf di Semarang. Foto Angling Adhitya Purbaya
Ada menu kebab granat hingga susu TNT di warung milik mantan napiter Yusuf di Semarang. Foto Angling Adhitya Purbaya

Semarang – Deradikalisasi atau mencegah paham terorisme bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya lewat kuliner. Hal itu diinisiasi oleh mantan narapidana terorisme yang sudah bertobat dan kini membantu melawan penyebaran paham terorisme.

Adalah Mahmudi Haryono alias Yusuf alias Yoseph Adirima, yang tahun 2003 lalu ditangkap Densus 88 di Semarang karena menyimpan 1 ton bahan peledak.

Usai menjalani hukuman, Yusuf kini mengajak sesama mantan napi terorisme mengelola warung di dekat Taman Indonesia Kaya tepatnya di deretan warung Tahu Gimbal legendaris Pak Edy.

Nama warungnya adalah Warung Kebangsaan. Warung ini menjual berbagai minuman dari susu dan juga menjual kebab dengan berbagai tingkatan pedas. Uniknya nama menu dikaitkan dengan bahan peledak seperti kebab granat, kebab mercon, dan kebab bom.

Kemudian ada susu TNT, susu bomber bahkan susu penganten, di mana istilah ‘pengantin’ kerap dipakai sebagai kata sandi untuk eksekutor kasus pemboman.

“Jadi kebab ini sesuai urutan pedasnya, kalau susu ini macam macam, misal susu TNT itu susu murni, kalau susu penganten ini STMJ (susu, telur, madu, dan jahe),” kata Yusuf saat berbincang dengan detikJateng, Sabtu (27/3).

Ia bersama lima eks napi terorisme yang kini tergabung dalam Yayasan Putra Persaudaraan Anak Negeri (Persadani) membuka warung tersebut bukan untuk kepentingan mereka saja.

Namun hasilnya untuk membantu ekonomi keluarga napi terorisme, agar ketika napi tersebut bebas bisa ikut dalam langkah deradikalisasi.

“Ini usaha yang sifatnya bisa hasilkan profit. Bisa support yayasan dan memudahkan kita berikan kontribusi ke keluarga teman-teman yang masih di penjara. Harapannya, setelah teman-teman bebas bisa ikut kembali ke masyarakat, ke jalan yang benar,” ujar Yusuf.

Selain itu dirinya juga terbuka untuk diskusi jika ada masyarakat yang penasaran dengan perihal terorisme dan antiradikalisme.

“Masyarakat yang ingin ngobrol soal seluk beluk terorisme dan antiradikalisme, kami dengan senang hati diskusi,” kata Yusuf.

Hal itulah yang mendasari penamaan menu yang unik dan berhubungan dengan aksi terorisme. Yusuf berharap masyarakat bertanya sehingga dirinya bisa memberikan edukasi soal bahaya paham radikal. Dalam kertas menu pun diberi peringatan agar waspada paham radikalisme di sekitar kita.

“Nama menu ini edukasi juga. Tentang isu, kontra narasi dengan isu tersebut,” tegasnya.

Harga minuman dan makan yang dijual Yusuf sangat terjangkau. Untuk kebab dihargai Rp 10 ribu dan susu seharga Rp 7 ribu hingga Rp 13 ribu. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB.

Yusuf yang dulu merakit bom bahkan bisa reparasi granat ini memang tertarik dengan kuliner. Dirinya pernah juga membuka warung bistik di Semarang namun kini sudah tutup karena harga sewa tempat yang tinggi.

Selain itu rekan-rekannya juga sudah mulai mandiri berbaur dengan masyarakat dan membuka usaha.

Ia mengakui sulitnya kembali ke lingkungan masyarakat ketika sudah ada cap mantan napi teroris. Maka selain sosialisasi antiradikalisme, Yusuf dan kawan-kawan juga melakukan deradikalisasi dengan usaha atau UMKM.

“Usaha yang kami (Persadani) rintis sudah berbagai usaha. Jadi sama-sama mau produktif dan sosialisasi. Ada peternakan lele, ada seblak, ada usaha kebab,” katanya. ( Abdul Mapakhir )