Eks Napiter Blusukan Ke sekolah

Anggota Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto memberikan pemahaman materi dan pengalaman mereka kepada peserta didik di SMK PGRI Sooko
Anggota Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto memberikan pemahaman materi dan pengalaman mereka kepada peserta didik di SMK PGRI Sooko

Mojokerto – Selama Ramadan, mantan narapidana terorisme (napiter) yang tergabung dalam Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto blusukan ke sejumlah sekolah. Hal ini dilakukan agar para remaja bisa membentengi diri dari percikan radikalisme yang kian marak terjadi.

Sekretaris Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto Lutfi Teguh Oktavianto mengatakan, selama bulan puasa ini ada tiga sekolah yang menjadi jujugan mereka dalam memberikan edukasi terkait paham radikalisme.

Sebab, kata dia, anak muda saat ini rentan menjadi sasaran empuk untuk dicekoki dengan paham radikalisme. Terutama mereka yang saat ini berada di jenjang pendidikan menengah ke atas.

’’Kita lakukan selama Pondok Ramadan, tujuannya agar anak muda saat ini jangan salah jalan seperti saya dan teman-teman mantan napiter yang lain. Apalagi, saat ini radikalisme itu dengan mudah tersebar di semua sosmed yang identik dengan anak muda,’’ ujarnya, kemarin (7/4) usai mengisi materi pondok Ramadan di SMK PGRI Sooko.

Pria akrab disapa Lutfi ini menerangkan, selama sesi pondok ramadan, ia menceritakan pengalamannya sekaligus membuka sesi tanya jawab bersama para peserta didik.

Bahkan, waktunya berlangsung cukup lama. Kurang lebih ada sekitar empat jam. Pasalnya, para siswa cukup antusias melontarkan pertanyaan terkait radikalisme.

’’Mereka sangat detail dalam bertanya. Mungkin memang penasaran, apalagi mereka bertanya dengan pelakunya. Jadi, sesi tanya jawab saya buka terus sampai mereka puas dan mengerti dengan bahayanya paham radikalisme ini,’’ terangnya.

Sementara itu, Kepala SMK PGRI Sooko Prapti Widodo menuturkan pihaknya sengaja bekerjasama dengan Yayasan Rumah Moderasi Mojokerto untuk mengisi kegiatan pondok Ramadan tahun ini.

Pasalnya, bulan puasa menjadi momen tepat bagi siswa untuk membnetengi diri dari perilaku yang menyimpang. Salah satunya paham radikalisme yang sedang tren di sosial media.

’’Penggunannya sosmed-kan anak muda. Nah, selama Ramadan ini, tepat kalau kita isi dengan materi pemahaman radikalisme. Agar, anak-anak bisa membentengi diri dari paham ini,’’ pungkasnya. ( Abdul Mapakhir )