Cegah Propaganda PMII Perkuat Literasi Digital

Seminar Nasional yang diselenggarakan PMII Cabang Kota Tarakan.
Seminar Nasional yang diselenggarakan PMII Cabang Kota Tarakan.

TARAKAN  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Tarakan bertekad penuh melaksanakan langkah preventif melalui literasi digital dan mengoptimalkan peran kaum akademis untuk mengurai problem bahaya laten gerakan radikalisme dan intoleransi.

Hal tersebut dikemas dari sebuah Seminar Nasional yang bertajuk upaya mengentas gerakan tersebut. Seminar Nasional yang bertemakan “Seminar Nasional yang diselenggarakan PMII Cabang Kota Tarakan. Menakar Bahaya Laten Gerakan Radikalisme dan Intoleransi sebagai upaya menjaga keutuhan Berbangsa dan Bernegara”, dilaksanakan PMII Cabang Kota Tarakan dengan melibatkan narasumber dari kalangan pemerintah dan akademisi di Hotel Lotus Panaya pada Sabtu, 12 Februari 2022.

Sebagai bentuk komitmen kebangsaannya, PMII memastikan bakal terus mengupayakan  deradikalisasi melalui literasi digital di sosial media maupun secara langsung bagi kaum muda.

Ketua PC PMII Cabang Kota Tarakan, Nizam menuturkan pemanfaatan sosial media kerap kali menjadi sarana propaganda serta penyebaran ideologi radikalisme dan intoleransi oleh pelaku kejahatan transnasional.

Selain itu, ia menilai hal tersebut masih terjadi lantaran regulasi dan penegakan hukum di Indonesia hingga saat ini baru bisa melakukan penindakan terhadap serangan teroris dan pendanaan terorisme.

“Gaya baru penyebaran ideologi radikalisme dan intoleransi yang memanfaatkan sosial media menjadi tantangan selanjutnya bagi seluruh kelompok karena gerakan yang dilakukan tidak mudah terdeteksi dan mampu menjangkau semua sisi sehingga perlu adanya literasi digital tentang deradikalisasi secara berkelanjutan”ujar Nizam kepada benuanta.co.id, pada Sabtu, 12 Februari 2022.

Tak hanya literasi digital, PMII Cabang Kota Tarakan pun berpendapat bahwa perguruan tinggi merupakan sarana vital yang efektif dilakukan penyebaran paham deradikalisasi terhadap pemikiran serta perilaku keagamaan yang cukup ekstrim.

Hal itu tentunya, dikatakan Nizam perlu mempertimbangkan keterlibatan seluruh unsur akademis di perguruan tinggi.

Nizam lanjut mengemukakan, pada umumnya di perguruan tinggi kebijakan merespon kelompok radikalisme lebih bersifat preventif, pencegahan kelompok mahasiswa dari organisasi atau kelompok radikal.

“Ini bentuk komitmen kebangsaan bersama serta peningkatan cinta tanah air dan bangsa yang mampu menjadi spirit awal deradikalisasi serta menjadi tanggungjawab seluruh elemen masyarakat,” tambah Nizam.

Uraian tersebut secara langsung dibahas pada kegiatan itu oleh Asisten Staf Khusus  Milenial Presiden, Gus Romzi Ahmad yang juga merupakan Wakil Ketua Umum SIBERKREASI, selain itu Muhammad Arbain dan Yasser Arafat yang merupakan dosen di Universitas Borneo Tarakan.

Pun demikian kegiatan tersebut, disambut baik oleh organisasi kemahasiswaan yang turut berkomitmen menggakamgkan rasa nasionalisme.

“Kegiatan ini dihadiri sebanyak 50 peserta terdiri dari kelompok Cipayung Plus Kota Tarakan, Ketua BEM Se-Kota Tarakan dan Ketua BEM Fakultas Se- Universitas Borneo Tarakan,” tandas alumni Universitas Borneo Tarakan itu. ( Abdul Mapakhir )