Catatan: Serangan Terorisme Di Pakistan Meningkat

Patroli militer Pakistan di Peshawar

Jakarta – Pakistan mencatat lonjakan angka tindak terorisme sebesar 56% di tahun 2021, menyusul masa tenang di tahun-tahun sebelumnya. Fenomena ini dipicu pergantian rejim di Afganistan yang ironisnya ikut direstui Islamabad (Pemerintah Pakistan).

Kesimpulan tersebut dicetuskan Institut Studi Konflik dan Keamanan Pakistan (PICSS) dalam laporan terbarunya. Studi yang dipublikasikan pada Selasa, 4 Januari 2021, itu, mencatat setidaknya 194 serangan teror selama tahun 2021.

Pola tindak terorisme mencakup serangan bom bunuh diri, pemboman, atau serangan bersenjata terhadap aparat keamanan. Pada tahun 2020, jumlah serangan teror di Pakistan mencapai 188 kasus, klaim PICSS.

Kenaikan tren serangan teror di Pakistan sudah dicatat sejak 2014, ketika aparat keamanan melancarkan operasi militer terhadap milisi bersenjata bentukan al-Qaeda dan Taliban, menurut Otoritas Penanggulangan Terorisme Nasional (NCTA).

Setidaknya 395 orang, lebih dari separuhnya merupakan serdadu atau polisi, tewas dalam serangan teror selama 2021.

Tren ini terutama bisa dilacak di kawasan perbatasan dengan Afganistan. Menyusul kejatuhan Kabul ke tangan Taliban, insiden teror di Provinsi Balochistan, Pakistan, meningkat lebih dari 90% selama 2021, dibandingkan tahun sebelumnya, catat departemen dalam negeri di ibu kota provinsi, Quetta.

Menurut data tersebut, sepanjang 2021 sebanyak 130 orang meninggal dunia dalam 137 insiden teror di Balochistan.

“Frekuensi serangan-serangan kecil meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir,” kata analis keamanan Pakistan, Amir Rana, kepada dpa. Di Balochistan yang menjadi medan perang separatisme, penyelundupan senjata dan gerilayawan tempur dari Afganistan merupakan kekhawatiran utama.

Perpanjangan tangan Taliban. Namun, ancaman terbesar bagi keamanan Pakistan saat ini diyakini berasal dari kelompok Tehrek-I Taliban Pakistan (TTP). Menurut PICSS, kelompok ini bertanggungawab atas mayoritas serangan teror pada 2021.

Meski berbagi ideologi, TTP memiliki struktur organisasi yang terpisah dari Taliban Afganistan. Menurut analis keamanan Pakistan, Fida Khan, kebangkitan TTP terinspirasi oleh kemenangan Taliban di negeri jiran.

“Hal ini seharusnya dianggap sebagai tanda peringatan, bahwa militan di Islamabad bisa menyebar ke bagian lain, ke Asia Selatan atau Tengah, terutama setelah pendudukan Kabul oleh Taliban,” katanya.

Sejak kejatuhan Kabul, TTP menggandakan serangan di Pakistan. “Para gerilayawan merasa lebih aman setelah Taliban menguasai Kabul, mereka kini bisa bergerak bebas di Afganistan,” kata seorang pejuang TTP kepada AFP.

“Mereka tidak lagi perlu mengkhawatirkan serangan drone AS. Dan mereka bisa bertemu atau berkomunikasi dengan lebih mudah,” imbuhnya.

Bagi Islamabad, salah satu strategi meredam ancaman TTP adalah dengan mengakomodasi kelompok ekstremis Islam tersebut. TTP sempat menyepakati gencatan senjata dengan Pakistan, dengan imbalan pembebasan 100 orang gerilayawannya.

Kebijakan itu dikritik sebaga langkah politik untuk mengamankan dukungan kelompok pemilih konservatif. Tapi meski berpotensi memicu konflik dengan militer, sikap pemerintah tidak berubah.

“Mereka yang ingin kembali dan menghormati hukum serta konstitusi kita, kita ingin memberikan mereka kesempatan kedua,” kata Fawad

Rasa percaya diri yang tinggi Taliban Pakistan terlihat sejak Oktober 2021 silam, ketika pemimpin TTP, Noor Wali Mehsud, keluar dari persembunyiannya dan membaur dengan masyarakat biasa, serta terlihat berpidato di depan khalayak ramai. ( Fikri )