Boy Rafli : Jangan Sampai Pegawai BUMN Terperangkap Radikalisme

Kepala BNPT Komjen. Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., menyampaikan materi terkait Pencegahan Paham Radikalisme di Lingkungan BUMN. Dok. BNPTRI

Jakarta – Paham radikal terorisme dapat menyusup di seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Fenomena ini dapat dilihat dari terlibatnya sejumlah pegawai BUMN dalam jaringan teror beberapa waktu lalu. Merespon hal tersebut, Menteri BUMN, Eric Thohir menegaskan tidak ada ruang bagi terorisme di Kementerian BUMN maupun lingkungan perusahaan pelat merah. 

Sebagai bentuk komitmen melawan radikalisme dan terorisme di tubuh BUMN, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersinergi dengan PT. SUCOFINDO  (Persero) melalui seminar bertajuk Pencegahan Paham Radikalisme di Lingkungan Perusahaan BUMN pada Jumat (12/11). Kepala BNPT, Komjen. Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., memberikan materi kepada jajaran direksi dan pegawai PT SUCOFINDO yang hadir secara langsung maupun online. 

Kepala BNPT menjelaskan radikalisasi melalui ruang digital menjadi cara baru kelompok teror mencuci otak sasarannya di era kemajuan teknologi hari ini. Tidak sedikit pengguna internet terpengaruh narasi maupun kajian bernada intoleran, yang condong ke arah radikal terorisme. Dampaknya muncul kelompok-kelompok yang eksklusif, maraknya tren lone-wolf atau aktor tunggal dalam aksi terorisme, motivasi untuk berangkat ke daerah konflik, dan tindakan merugikan lainnya.

Melihat fenomena tersebut, Boy Rafli mengimbau agar pegawai SUCOFINDO selalu waspada terhadap narasi provokatif dan ajakan untuk bergabung dalam organisasi terlarang. Menurutnya, sebagai anak bangsa kita wajib untuk melakukan bela negara, dalam hal ini melawan radikal terorisme dan anti Pancasila.

“Jangan sampai teman-teman yang khususnya di BUMN terperangkap dengan ajakan ini, mereka umumnya menyampaikan seolah-olah berjuang atas nama agama, ingin mencari sesuatu yang syahid,” kata Kepala BNPT.

Pegawai PT SUCOFINDO diharapkan paham dan sadar akan kewajiban sebagai anak bangsa untuk membela negara yang salah satunya dengan cara menolak paham radikal dan terorisme.

“Kita sebagai anak bangsa dalam kapasitas apapun wajib bela negara. Ketika ada gagasan yang bertentangan dengan ideologi dan konstitusi negara, maka ada langkah-langkah yang dilakukan dari mitigasi sampai penegakan hukum,” lanjutnya.

Direktur Sumber Daya Manusia PT. Sucofindo (Persero), Johanes Nanang Marjianto, berkomitmen untuk terus mendukung pemberantasan radikalisme di lingkungan kerja PT SUCOFINDO. Ia pun mengapresiasi kehadiran BNPT untuk memberikan pembinaan terhadap insan Sucofindo, menumbuhkan rasa nasionalisme dan menghindari masuknya paham radikalisme.

“Keberagaman suku, agama, ras, antargolongan, usia, latar belakang pendidikan, dan generasi tidak melunturkan semangat dan tetap konsisten bersinergi untuk berkarya, mewujudkan rasa nasionalisme membangun kemajuan bersama,” kata Johanes.

Johanes menjelaskan selama ini SUCOFINDO  telah berupaya melakukan kegiatan anti radikalisme dengan menerapkan budaya yang dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, yaitu dengan penerapan nilai AKHLAK ( Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Kolaboratif, dan Adaptif). “Nilai AKHLAK merupakan upaya preventif bersama dalam melunturkan radikalisme, menumbuhkan integritas untuk bangsa dan negara,” ujar Johanes.

Dalam kegiatan seminar ini turut hadir Komisaris Utama  PT SUCOFINDO (Persero) Veri Anggrijono,  Komisaris Independen PT SUCOFINDO (Persero) Achmad Sudrajat, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko  PT SUCOFINDO (Persero) Budi Hartanto dan Kepala Bagian Hukum dan Humas BNPT, Kombes. Pol. Hando Wibowo, S.I.K, M.Si., M.Han. (Rendi)