BNPT: 202 Juta Pengguna Medsos Rentan Radikalisme

Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar
Kepala BNPT Komjen Boy Rafli Amar Melakukan Kunjungan Ke Madiun.

BNPT Waspadai Virus Radikalisme Racuni 202 Juta Pengguna Medsos di Indonesia

Madiun – Sebanyak 202 juta dari 273 juga jumlah penduduk Indonesia merupakan pengguna media sosial. 202 juta pengguna media sosial tersebut sangat rawan teracuni virus radikalisme.

“Pengguna media sosial saat ini ada 202 juta, dari jumlah penduduk Indonesia saat ini 273 juta atau 80 persen dari jumlah penduduk kita,” ujar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar saat meninjau pelaksanaan vaksin booster di Kota Madiun, Minggu (13/2/2022).

Dari jumlah 202 juta pengguna media sosial tersebut, kata Boy, yang merupakan generasi milenial mencapai 60 persen dan sisanya perkantoran. Boy meminta agar pengguna media sosial untuk selektif dalam penggunaannya.

“Pengguna medsos 60 persen generasi milenial dan sisanya usia dewasa dan perkantoran. Jadi kita minta agar selektif tertib dalam menggunakan media sosial. Masih ada medsos belum tertata, bisa jadi tempat menghujat,” kata Boy

Disampaikan oleh Boy, bahwa saat ini sudah 20 tahun ideologi kekerasan mulai tertanam di masyarakat melalui media sosial. “Sejak 20 tahun lalu, ideologi kekerasan mulai tertanam di masyarakat melalui media sosial,”jelas Boy.

Boy menuturkan bahwa virus radikalisme menyerupai OTG dalam COVID-19 yang tidak ada gejala menonjol. Masyarakat diminta waspada.

“Pengguna medsos 60 persen generasi milenial dan sisanya usia dewasa dan perkantoran. Jadi kita minta agar selektif tertib dalam menggunakan media sosial. Masih ada medsos belum tertata, bisa jadi tempat menghujat,” kata Boy

Disampaikan oleh Boy, bahwa saat ini sudah 20 tahun ideologi kekerasan mulai tertanam di masyarakat melalui media sosial. “Sejak 20 tahun lalu, ideologi kekerasan mulai tertanam di masyarakat melalui media sosial,”jelas Boy.

Boy menuturkan bahwa virus radikalisme menyerupai OTG dalam COVID-19 yang tidak ada gejala menonjol. Masyarakat diminta waspada.

“Jadi masyarakat yang sudah terpapar virus radikalisme bisa dikatakan seperti istilah orang tanpa gejala atau OTG. Tahu-tahu ekspresinya mau menjadi pelaku bunuh diri, tidak ada semua agama membenarkan aksi buruh diri,” ungkapnya.

Boy menambahkan, BNPT juga akan membuat program Warung NKRI, yakni kependekan dari wadah akur rukun usaha nurani Gelorakan NKRI. “Kita harus semangat utamanya generasi muda, semangat lawan permusuhan, warung NKRI yakni Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan NKRI,” tandasnya. ( M.Robi )