Akibat Frustasi, Pengungsi Afghanistan Membakar Diri di Medan

Ilustrasi.

Jakarta Lembaga swadaya masyarakat (LSM) mendesak Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) bergerak karena pengungsi di Indonesia sudah mulai frustrasi, hingga salah satu dari mereka membakar diri di Medan.
“Bukti UNHCR tidak serius mengatasi persoalan ini dari banyaknya warga international di Indonesia yang sedang mencari suaka dan pengungsi depresi. Terakhir pengungsi dari Afghanistan yang transit di Medan bakar diri,” kata pendiri LSM Solidarity Indonesia for Refugee (SIR), Ali Yusuf.

Melalui siaran pers SIR pada Senin (6/12), Ali juga menilai pihak UNHCR kurang merespons dengan baik para pengungsi yang ada di Indonesia.

“Fakta di lapangan, UNHCR kurang respon terhadap nasib pengungsi di Indonesia. Salah satu buktinya mereka tidak difasilitasi ketika ingin berkomunikasi dengan UNHCR,” ucap Ali.

Ali juga membeberkan informasi terkait aksi jahit mulut yang terjadi pada Sabtu (4/12) lalu di Pekanbaru.

“Hari ini tepat pukul 11.26, Sabtu (4/12), saya menerima laporan ada aksi jahit mulut di depan gedung UNHCR Pekanbaru,” tutur Ali.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga SIR, Maryam, menyebut bahwa aksi bakar diri di Medan bukanlah yang pertama kali. Maryam menilai banyak aksi serupa yang perlu mendapatkan respons dari UNHCR.

“Kami meminta UNHCR atasi persoalan ini. Berdasarkan data di lapangan yang sempat kami temui, bahwa sekitar 20 orang mencoba bunuh diri, 14 orang meninggal dan 6 orang berhasil diselamatkan,” ujar Maryam.

Merespons rilis SIR, pihak UNHCR Indonesia mengatakan bahwa staf mereka sudah bertemu imigran di Medan sejak awal November.

“Setiap saat, kami menawarkan pengungsi untuk berdiskusi secara terbuka dengan staf UNHCR. Kami telah menawarkan komunikasi lebih lanjut dengan perwakilan UNHCR di Jakarta melalui pertemuan online, dan kami berharap pertemuan ini segera terjadi,” ujar perwakilan UNHCR Indonesia kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/12).

Selain itu, pihak UNHCR menyampaikan bahwa mereka prihatin dengan situasi yang terjadi di Pekanbaru, pun juga mengimbau pengungsi untuk tak menyakiti diri sendiri.

“Staf UNHCR berkomunikasi dengan para pengungsi dan berkoordinasi dengan pihak lain di lapangan untuk memastikan bahwa situasi tersebut ditangani dan diselesaikan,” tutur perwakilan UNHCR itu.

Indonesia sendiri sebenarnya tidak berkewajiban menampung pengungsi. Para pengungsi itu terdampar di Indonesia dan menanti untuk ditempatkan di negara ketiga oleh UNHCR.

Namun hingga kini, masih banyak pengungsi yang statusnya belum jelas. Menurut UNHCR, ada 20 negara yang seharusnya menampung pengungsi.

Saat ini, puluhan negara itu hanya bisa menerima sekitar 1,5 persen dari 26 juta total pengungsi di seluruh dunia. UNHCR menyatakan, banyak negara mengurangi kuota penerimaan pengungsi.

“Banyak dari negara-negara ini mengurangi kuota pemukiman kembali mereka selama beberapa tahun terakhir karena berbagai alasan, dan mereka hanya menerima pengungsi yang paling rentan. Kondisi ini berdampak negatif terhadap potensi pemukiman kembali para pengungsi di seluruh dunia, termasuk Indonesia,” tutur perwakilan UNHCR. (Rendi)