Palu – 76 penyintas bom di Sulawesi berkumpul. Keberadaan mereka mengingatkan masyarakat untuk jangan melupakan potensi ancaman terorisme.

76 penyintas tersebut merupakan korban bom di Poso, Tentena, dan Palu. Mereka tergabung dalam Forum Silaturahmi Penyintas (Forsitas) Provinsi Sulawesi Tengah.

Kegiatan yang diprakarsai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) ini melibatkan Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tengah, Biro SDM Polda Sulawesi Tengah, Himpsi Provinsi Sulawesi Tengah dan Kesbangpol Provinsi Sulawesi Tengah.

Kegiatan berlangsung di Best Western Plus Coco Palu, Sulawesi Tengah pada Rabu (14/09).

Direktur Perlindungan BNPT RI, Brigjen Pol Drs Imam Margono menyatakan penyintas atau korban bom merupakan tanggung jawab negara.

“Bentuk tanggung jawab negara dimaksud berupa bantuan medis, rehabilitasi psikososial, psikologis, santunan bagi keluarga dalam hal korban yang meninggal dunia, serta kompensasi,” kata Imam Margono.

Keberadaan Forum Silaturahmi Penyintas (Forsitas), tutur Imam Margono, memudahkan keberlanjutan hubungan dengan BNPT. Dengan demikian BNPT bisa lebih mudah mengkoordinasikan bantuan dari berbagai pihak.

Imam menegaskan BNPT memang diberikan mandat oleh negara sebagai koordinator dalam bidang pemulihan korban tindak pidana terorisme. Mandat yang dimaksud adalah untuk mengkoordinasikan dengan kementerian lembaga maupun stakeholder terkait dalam program pemulihan korban. Langkah tersebut merepresentasikan bahwa negara hadir bagi seluruh warga negaranya termasuk para penyintas.

Keberadaan penyintas, tegas Imam Margono akan selalu mengingatkan bahwa potensi ancaman terorisme terus mengintai. Jika tak ditangani dengan baik, terorisme akan memakan korban jiwa masyarakat lainnya.

“Apa yang kita perlukan dalam menghadapi potensi ancaman tersebut tidak lain adalah kebersamaan. Ketika bangsa ini kuat, ketika masyarakat berani dan seluruh komponen bangsa bersatu menjadikan terorisme sebagai musuh bersama maka kedamaian akan terjadi,” terang Imam Margono.

Sementara itu oleh Koordinator Forsitas Provinsi Sulawesi Tengah, Daniel Doeka dengan berkumpul para penyintas bom bisa saling berbagi pengalaman. Sebagai korban bom, mereka bisa terus mengingatkan masyarakat luas bahwa ancaman terorisme adalah nyata

“Banyak sekali manfaat yang diambil dari acara ini,” kata penyintas bom Pasar Mahesa Palu tahun 2005.

“Bagi kami sendiri Kegiatan ini sangat informatif tentang apa kebutuhan kami. Kami sangat merasa bahwa kami dihargai, bahwa negara hadir untuk kami” tambah Daniel. ( RBY )