100 Aktivis Mahasiswa di Malang Ikuti Diskusi Kebangsaan, Antisipasi Radikalisme

Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Malang Institute di ballroom Hotel Mirabel
Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Malang Institute di ballroom Hotel Mirabel

Malang – Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat menjadi pembicara dalam Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Malang Institute di balroom Hotel Mirabel, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Turut hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, Rektor Universitas Raden Rahmad Malang, KH Imron Rosyadi Hamid, Ketua GP Anshor Kabupaten Malang, Fatkhurrozi dan Anggota DPRD Jatim Dapil Malang Raya, Aufa Zhafiri. Diskusi tersebut, mengambil tema “Membangun generasi muda yang cerdas dan kompeten dalam melawan radikalisme melalui semangat Hubbul Wathon Minal Iman”.

Lebih dari 100 aktivis mahasiswa dari Universitas Rajak Malang menghadiri pertemuan tersebut. Imron Rosiad dalam sambutannya mengatakan bahwa perkembangan radikalisme tidak hanya menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi masalah besar bagi seluruh dunia. Menurutnya, radikalisme dapat dengan mudah menyebar dengan pesatnya perkembangan teknologi tanpa ada kendali.

Sementara itu, Kapolres Malang, AKBP Ferli Hidayat dalam paparannya menyampaikan bahwa ada 2 upaya yang dilakukan dalam menangani radikalisasi di Indonesia. 

“Yang pertama adalah hard approach, yang mengedepankan pendekatan intelejen, militer, dan penegakan hukum. Semuanya sudah dilakukan,” ucap Kapolres, Senin (19/9).

“Kedua yaitu soft approach, yang terbagi menjadi lima unsur utama yaitu sender (pengirim pesan), receiver (penerima pesan), message (pesan), channel (saluran), dan noise (ruang lingkup),” lanjut AKBP Ferli. Kapolres Malang, juga menegaskan bahwa pelaku teror tidak erat dengan latar belakang ekonomi maupun pendidikan.

Selain itu, tambah Kapolres, upaya yang dilakukan oleh Polri dalam menangani radikalisme antara lain Program deradikalisasi, kontra radikalisasi, kontra naratif, dan program anti propaganda melalui internet maupun media sosial.

“Yang terpenting, jangan pernah melebihi kecintaan kita selain kepada Allah SWT,” pungkas AKBP Ferli. Gus Fatkhurrozi, begitu ia akrab disapa, juga menambahkan bahwa radikalisasi adalah paham untuk merubah suatu tatanan atau tradisi. 

“Generasi muda lebih mudah terkontaminasi hal-hal yang menuju ke radikalisasi, ada banyak anak muda yang setelah menuntut ilmu, pulang ke rumah malah mengajak debat orangtuanya,” tutur Fatkhurrozi.

Agama apapun mengajarkan kedamaian. Cara seseorang dalam memahami agama lah yang mempengaruhi pemikiran seseorang, lanjutnya. Senada dengan Fatkhurrozi, Aufa Zhafiri menyebutkan bahwa radikalisme, paham, ideologi ini bukan seperti wabah yang bisa diidentifikasi secara langsung. Semua individu bisa terpapar radikalisasi.

“Yang rawan terpapar radikalisasi adalah generasi sakit hati. Untuk itu kita harus bisa mengantisipasinya. Pertama kita perlu menata diri, menata hati,” ucapnya.

“Kedua tumbuhkan kedewasaan, beda pendapat biasa namun jangan dijadikan alasan untuk saling melukai dan berujung perpecahan,” sambung Aufa.

Ketiga, jangan buang waktu luang Anda. Datang bersama dengan lingkungan yang mendukung untuk mencapai tujuan positif Anda.

Diskusi kebangsaan berlangsung meriah, diselingi tanya jawab dari peserta dan nara sumber. Para peserta juga menyampaikan apresiasi yang tinggi atas presentasi penyelenggara dari semua lapisan masyarakat, termasuk polisi, akademisi, politisi dan tokoh agama. ( RBY )